0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

KontraS: Usut Tuntas Dugaan Penganiayaan Terhadap Siyono

timlo.net/aditya wijaya
Ratusan pelayat mengantarkan kepergian jenazah Siyono di Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten —  Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti untuk mengusut tuntas kematian Siyono, warga Cawas, Klaten, setelah ditangkap oleh Densus 88. Pasalnya, korban (Siyono) dikonfirmasi sudah meninggal dunia pada Jumat, 11 Maret 2016.

“Kami menduga bahwa korban meninggal karena mengalami penyiksaan saat berada dalam pemeriksaan Polri,” ujar Koordinator KontraS, Haris Azhar, dalam siaran persnya, Senin (14/3).

Sebelumnya, Selasa (8/3), Densus 88 menangkap korban di dekat kediamannya. Selang dua hari, Kamis (10/3), Densus menggeledah rumah korban yang juga merupakan TK Amanah Ummah di Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten. Akibatnya, penggeledahan itu menimbulkan kegiatan belajar mengajar terhenti dan membuat anak-anak ketakutan. Esok harinya, Jumat (11/3), dikabarkan korban meninggal dunia dan keluarga korban dijemput untuk mengurus jenazahnya.

Terkait hal itu, Humas Polri menyampaikan, korban adalah terduga kasus terorisme dan meninggal setelah mencoba melakukan perlawanan terhadap anggota polisi yang mengawalnya. Oleh karena anggota Polri yang mengawal hanya satu orang, anggota tersebut terpaksa melakukan kekerasan agar korban tidak melarikan diri. Sehingga korban lemas dan meninggal dunia.

Menurut dia, penjelasan tersebut tentu sulit dipercaya kebenarannya. Apalagi karena Polri belum melakukan visum atau otopsi untuk membuktikan penyebab kematian korban.

“Jika penyiksaan memang terjadi maka dapat dipastikan telah terjadi pelanggaran pidana, etik, prosedur pemeriksaan dan pengamanan oleh anggota Polri dalam menangani terduga kasus terorisme. Dengan begitu tentu perlu ada penindakan bagi anggota Polri yang melanggar tersebut dan evaluasi menyeluruh mengenai prosedur dan tindakan anggota Densus 88 saat menjalankan operasi penanggulangan terorisme,” ujar Haris.

Ditambahkan, tindakan Densus 88 melakukan penggeledahan di rumah korban yang merupakan TK saat kegiatan belajar mengajar berlangsung tentu adalah hal yang tidak patut. Tindakan itu dapat menimbulkan trauma bagi anak-anak yang ketakutan melihat anggota Densus 88 bersenjata laras panjang yang tiba-tiba datang melakukan penggeledahan.

Berdasarkan fakta dan ketentuan di atas, KontraS mendesak Kapolri untuk memerintahkan jajarannya melakukan penyidikan mengenai dugaan penyiksaan yang dialami oleh Alm. Siyono dan menindak anggota Polri yang melakukannya.

“Kedua, memerintahkan jajarannya untuk melakukan visum dan otopsi terhadap jenazah Alm. Siyono untuk mengetahui dengan pasti penyebab kematiannya. Ketiga, mengevaluasi kewenangan dan tindakan operasi Densus 88 untuk mencegah terjadinya hal serupa. Keempat, menyampaikan informasi perkembangan penyidikan kasus dugaan penyiksaan tersebut kepada keluarga korban,” tandas Koordinator KontraS ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge