0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bayang-bayang Dualisme Kompetisi Bikin Persis Bingung

timlo.net/aryo yusri atmaja
Pemain Persis Solo, Qoiron Sandy berjibaku dengan pemain Persis Muda, Jumat (15/1). (timlo.net/aryo yusri atmaja)

Solo – Klub-klub sepak bola Indonesia kembali dihadapkan situasi bayang-bayang dualisme kompetisi. Namun kali ini bedanya adalah turnamen, lantaran masih dibekukannya PSSI oleh Pemerintah. Adalah rencana dari Tim Transisi yang akan menggelar kompetisi di bulan Agustus mendatang.

Tim Transisi telah mengundang klub-klub baik di ISL maupun Divisi Utama, Jumat (12/3) kemarin di Jakarta. Sementara turnamen yang lebih dahulu digagas adalah Indonesia Super Competition (ISC), yang dimulai April hingga November mendatang.

ISC sendiri adalah turnamen di bawah naungan PT Gelora Trisula Semesta (PT GTS) yang dikomando oleh Direktur PT Liga Indonesia, Joko Driyono. Hal ini membuat klub-klub mulai kebingungan menentukan langkah mana yang harus diikuti langkahnya.

Persis Solo misalnya, yang ternyata juga belum bisa memastikkan akan ikut kompetisi kubu yang mana. Entah itu di ISC yang digelar April nanti, atau kompetisi Tim Transisi yang digelar Agustus mendatang. Bagi Persis hanyalah kejelasan pertandingan sepak bola.

“Untuk ISC, kami ingin memastikan lagi dengan menghubungi pihak PT GTS, soal kejelasan turnamen. Kami tidak ingin semuanya mengambang dan tidak jelas seperti sekarang ini. Jadi atau tidak kan membuat bingung, bagaimana bisa mempersiapkan sebuah tim,” kata Direktur Olahraga Persis, Totok Supriyanto, Sabtu (13/3).

Diakuinya, Persis masih dihantui “kebangkrutan” pada saat batalnya kompetisi tahun lalu. Saat itu, Persis sepertinya betul-betul siap mengarungi kompetisi dengan pemain lengkap dan dukungan finansial oleh pemegang saham.

Namun semuanya menjadi berantakan begitu Pemerintah melalui Menpora tak memberikan ijin rekomendasi keamanan, yang merupakan bagian dari dibekukannya PSSI. Alhasil selama satu tahun hanya berlangsung turnamen-turnamen skala nasional dan regional.

“Hal yang ditakutkan adalah jangan-jangan ada dualisme lagi nanti. Semua menjadi tidak jelas seperti ini, membuat kami juga bingung melangkah. Sudah siap jauh-jauh hari, ujung-ujungnya batal lagi. Kami trauma dengan situasi seperti ini. Menghabiskan pikiran dan uang,” imbuh Totok.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge