0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cabe Puyang Paranggupito

Dari Tani Naluri Beralih Jadi Petani Nalari

dok.timlo.net/tarmuji
Bibit cabe puyang berkualitas siap tanam (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Cabe puyang merupakan salah satu rempah-rempah yang menjadi bahan baku produksi jamu dan farmasi. Selama ini, di Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, tumbuhan ini juga disebut Cabe Jawa dan memiliki kandungan senyawa yang berkhasiat kualitas terbaik setelah cabe puyang dari Madura.

“Dulu kita masih menjadi petani naluri, tapi setelah ada pembinaan dan pelatihan dari pemerintah, kita sedikit demi sedikit menjadi petani nalari, ya tapi memang hasilnya belum optimal,” ungkap Ketua Kelompok Tani Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Tukino, Sabtu (12/3).

Sebelumnya, cabe puyang hanya merupakan tanaman selingan, bukan tanaman pokok. Sejak 2008, perlahan-lahan cabe puyang diberdayakan, namun hanya ala kadarnya. Perubahan itu terlihat, semula cabe puyang dibiarkan merambat di bebatuan di lereng-lereng bukit, kini masyarakat sudah memulai dengam metode baru,yakni menyediakan pohon randu dan dadap sebagai rambatannya.S elain untuk rambatan, dua jenis pohon ini konon juga berkontribusi untuk pertumbuhan cabe.

“Untuk cabe puyang basah, pengepul berani membeli dengan harga Rp25 ribu perkilonya, sedang untuk kondisi kering Rp 100 ribu perkilonya,” ujarnya.

Dalam setahun pengepul dapat mengumpulkan sekitar 24 ton cabe puyang dari desa ini. Bahkan, tahun lalu (2015) tembus sekitar 60 ton cabe puyang.

“Kendala selama ini yang kami alami, jika kemarau panjang daun cabe rontok. Hal serupa juga terjadi di saat curah hujan seperti ini, maka kami ingin lebih ada perhatian pemerintah. Ya kalau bisa semacam ada pendampingan untuk petani cabe puyang ini,” katanya.

Pemerintah Kecamatan Paranggupito pun mengakui jika selama ini cabe puyang hanyalah tanaman nomor dua. Masyarakat masih mengandalkan sistem pertanian tradisional.

“Memang benar, cabe puyang selama ini hanya tanaman nomor dua, padahal kalau ditekuni dengan benar maka hasilnya bisa dua kali lipat,” kata Camat Paranggupito, Haryanto.

Dengan slogan Tumuju Koncoroning Paranggupito, pemerintah kecamatan pun bertekad mengembangkan desa wisata rempah dan buah, selain wisata pantai di Paranggupito. Terlebih dengan adanya dukungan pihak ketiga dan Pemkab Wonogiri.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge