0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gerhana Total Terjadi Setiap 223 Tahun di Satu Tempat

melihat gerhana matahari dengan teleskop (foto: Tyo Eka)

Sukoharjo – Pakar Falak Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ruswa Darsono menyatakan, gerhana matahari total akan terjadi setiap 223 tahun sekali atau satu periode saros di satu tempat lintasan.

“Lama gerhana terjadi sekitar 5 jam, atau sekitar 2 jam di suatu tempat,” ungkap Ruswa kepada Timlo.net, di sela-sela pengamatan gergana melalui teropong, di Kampus Fakultas Kedokteran UMS, Sukoharjo, Rabu (9/3).

Ruswa mengatakan, seperti di Solo, terjadi mulai pukul 6.21 WIB, dan memasuki fase puncak pada pukul 07.24 WIB. Kemudian gerhana secara keseluruhan selesai pada pukul 08.36 WIB.

Dari kota Solo dan sekitarnya, menurut pakar Falak tersebut, gerhana memang tidak bisa disaksikan secara total, tetapi maksimal sekitar 82 persen, dimana bayangan bulan yang menutupi matahari. Berbeda dengan wilayah seperti Kalimantan, Bangka Belitung atau sebagian Sumatera lainnya, sebagian Sulawesi, dan kepulauan Halmahera yang terlihat total.

“Kalau dari kota Solo dan sekitarnya hanya terlihat seperti bulan sabit,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ruswa yang dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UMS mengatakan, gerhana Matahari secara umum sebetulnya tidak berdampak langsung terhadap tubuh manusia. Hanya akan merusak mata apabila dilihat langsung tanpa bantuan alat apapun. Begitu pula bila dilihat langsung melalui teleskop juga bisa membakar mata apabila teleskop tersebut tanpa diberi filter.

“Artinya, untuk melihat gerhana Matahari memang diperlukan alat bantu,” ujarnya.

Sementara itu, di area pengamatan gerhana di halaman Fakultas Kedokteran UMS, tersedia lima teleskop. Teleskop tersebut tersambung perangkat computer dan layar televisi. Sehingga bagi yang mengikuti jalannya proses gerhana, cukup melihat melalui layar televisi.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge