0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cerita Mencekam Gerhana Matahari 1983

foto: Daryono
Warga saksikan gerhana matahari total (GMT) (foto: Daryono)

Solo – Perbedaan mencolok sangat dirasakan saat terjadi gerhana matahari di tahun 1983 dengan saat ini. Antusiasme masyarakat menyaksikan fenomena peristiwa sejajarnya antara bulan dan matahari dalam satu garis lurus ini disambut dengan suka cita.

Namun, 33 tahun silam peristiwa suka cita tersebut tidak akan dijumpai. Yang ada hanya ketakutan mencekam lantaran masyarakat mendapat instruksi langsung dari pemerintah supaya tidak menyaksikan peristiwa langka tersebut.

“Dulu saat gerhana, masyarakat langsung masuk ke rumah. Melihatnya hanya dari televisi. Beda dengan saat ini yang antusias sejak sebelum terjadi gerhana matahari,” terang YF Sukasno, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD menceritakan pengalamannya.

Waktu itu, dirinya menginjak usia 25 tahun. Dari dalam rumah dengan seksama Sukasno menyaksikan sebuah televisi hitam putih yang menyiarkan secara langsung kejadian gerhana matahari. Sedangkan, di halaman dalam rumah disiapkan seember air yang diletakkan di dalam baskom untuk melihat pantulan matahari.

“Dulu instruksinya, kalau pas gerhana masuk ke dalam rumah menyaksikan siaran tv. Atau, menggunakan baskom air di dalam rumah,” katanya.

Senada, Ketua Fraksi Demokrat Nurani Rakyat (FDNR) DPRD Solo juga hanya menyaksikan melalui layar kaca. Beruntung, televisi yang dimilikinya saat itu sudah memiliki warna dibandingkan tetangganya yang masih hitam putih.

Namun, saat terjadi suasana gerhana matahari total pada waktu itu kawasan di seputar rumahnya sangat mencekam. Hampir tidak ada warga yang berani untuk keluar rumah.

“Jaman dulu (tahun 1983-red) sangat mencekam. Warga masuk rumah semua, termasuk saya. Sangat berbeda dengan waktu ini yang disambut dengan antusias,” terangnya.

Hal serupa juga dialami oleh anggota Fraksi PDI Perjuangan, Kosmas Krisnamukti. waktu itu ia mengaku masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP). Sekolah sengaja diliburkan dan ia hanya melihat gerhana di rumahnya.

Rasa takut akan cahaya matahari saat gerhana pun dirasakanya, terlebih nasihat orang tua kala itu yang kental dengan falsafah jawa.

“Jangan keluar, nanti dimakan bethara kala(raksasa besar),” katanya menirukan perkataan orang tua.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge