0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dulu Takut Lihat Gerhana Matahari, Sekarang Ajak Anak Istri

foto: Daryono
Warga saksikan gerhana matahari total (GMT) (foto: Daryono)

Solo – Masyarakat Solo begitu antusias menyaksikan fenomena langka gerhana matahari total (GMT), Rabu (9/3). Hal ini berbeda dengan kondisi GMT yang terjadi pada 1983. Saat itu, warga tidak ada yang berani keluar rumah.

Di Masjid Agung Solo, ratusan warga menyambut GMT dengan lebih dulu melakukan salat gerhana secara berjamaah. Salat dilaksanakan pukul 06.50 WIB, dipimpin imam masjid setempat.

Salat dilakukan ketika gerhana mulai terjadi dimana bulan perlahan menyentuh bagian matahari.

Usai melaksanakan salat, warga berkerumun di halaman masjid untuk menyaksikan GMT. Secara bergantian, warga melihat gerhana melalui teropong dan kacamata matahari yang disediakan. Panitia juga menyediakan dua layar proyektor untuk menampilkan pengamatan teropong secara langsung.

“Kalau di tahun 1983, ada himbauan untuk tidak keluar rumah. Dulu memang benar-benar tidak berani keluar rumah. Sama orang tua saya dilarang,” kata Pungki Purwoko (47), warga Baluwarti yang ikut menyaksikan GMT.

Pungki yang waktu itu masih SD hanya berdiam di rumah saat GMT terjadi. Orang tuanya sangat meyakini jika keluar rumah akan mengalami kebutaan. Kondisi itu yang membuat tidak ada warga yang berani keluar rumah.

“Waktu itu di rumah ada genting yang bocor sehingga sinar matahari masuk. Itu saja orang tua saya melarang melihat cahaya yang masuk itu,” jelas dia.

Kini, Pungki sengaja datang ke Masjid Agung untuk melihat GMT. Ia tidak datang sendiri, tetapi juga mengajak anak dan istrinya.

Panitia Pengamatan GMT Masjid Agung Solo, Mahendra Dicky Setiawan mengatakan pihaknya menyediakan 130 kacamata yang dibagikan gratis kepada warga. Untuk dapat melihat gerhana, warga dilarang melihat dengan mata telanjang. Warga harus mengenakan kacamata atau melalui teropong.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge