0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Refleksi Ganjar Sambut Nyepi

Dari kanan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga saat menghadiri Tawur Agung di Candi Prambanan (dok.timlo.net/humas pemkab klaten)

Klaten — Gubernur Jawa Tengah mengajak setiap anak bangsa Indonesia agar merawat keberagaman dan menyegarkan tindakan bermanfaat. Hal itu ia sampaikan dalam prosesi Tawur Agung Sasih Kesanga di Lapangan Wisnu Mandala Candi Prambanan, Selasa (8/3).

“Inilah Keindonesian kita yang terus dirawat. Ibu Pertiwi menanti peran-peran kongkrit anak negeri. Karena kebhinekaan itu sejatinya rahmat,” tutur Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (8/3).

Di mata dia, hakikat Nyepi ialah menyucikan dan menyeimbangkan buana (dunia) kecil dan buana besar. Kesejatian itu yang harus direnungkan bersama dalam momentum Nyepi melalui laku falsafah Tri Karana, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam lingkungan, dan antar sesama manusia.

“Keharmonisan itu terwujud apabila kita mau dan mampu untuk melakukan tumungkul ing cipta, menepi ing karsa, sepi ing karsa atau tidak gaduh, dan menepi ing karya atau silent movement untuk Keindonesian yang lebih baik,” ucap Ganjar.

Menurut dia, wening atau hening bukanlah sikap pasif tapi sikap inaktif sebagai kontemplasi menyadari pasrah bukan sumarah. Sebuah laku yang berlandaskan etos kerja, daya juang, dan memegang teguh nilai spritualitas agama untuk menapak hari esok yang lebih baik hingga akhir hayat.

Mengutip kisah Cupumanik Astagina dalam karya buku sastra Sindhunata, lanjut Ganjar, diceritakan dunia dan seisinya bukanlah milik kita. Melainkan nitilaku sebagai ikhtiar menjalani hidup yang lebih baik, berkah, dan bermanfaat.

“Jika kita mengambil yang bukan hak milik kita tentu akan berakibat buruk dalam kehidupan kita semua. Demikian juga bangsa kita yang memiliki persoalan sangat besar yang bisa diselesaikan dengan gotong royong, dan terutama keikhlasan mengabdi kepada bangsa dan negara. Tidak ada satu pun diantara kita yang rumangsa bisa atau merasa jumawa, tapi kita harus rumangsa satu keluarga besar untuk masing-masing mengambil peran bermanfaat dan saling menghormati ing sesami lan nagari,” ujar dia.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge