0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ogoh-ogoh Candi Prambanan Simbol Stop Ilegal Logging

Ogoh-ogoh dalam Tawur Agung di Candi Prambanan menyampaikan pesan Stop Ilegal Logging (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Boneka raksasa berwajah menyeramkan atau biasa disebut ogoh-ogoh diarak dalam ritual prosesi Tawur Agung Sasih Kesanga, di lapangan Wisnu Mandala Candi Prambanan, Selasa (8/3). Ogoh-ogoh yang membawa gergaji mesin itu berasal dari Pasraman Padma Bhuana Yogjakarta.

“Ogoh-ogoh ini bertema Stop Ilegal Logging. Menggambarkan salah satu musuh bangsa Indonesia yang melakukan penebangan hutan dan pembakaran hutan dengan tanpa memperhatikan aspek lingkungan,” ujar Wakil Panitia Perayaan Nyepi 2016, Suparman, Selasa (8/3).

Dikatakan, ogoh-ogoh itu melambangkan sifat keangkaramukaan manusia yang tidak pernah berdamai dengan jagat raya dan selalu ingin menguasai, menaklukan, serta menghabisi hutan dan tanaman.

Selain itu, pesan Stop Ilegal Logging menunjukkan komitmen dan kepedulian generasi muda Hindhu untuk menjaga lingkungan dan alam semesta sebagai bentuk pelaksanaan Tri Hita Karana, yaitu manusia harus selalu menjaga relasi yang harmonis dan damai dengan alam semesta dan alam sekitar.

“Padahal untuk mewujudkan Jagaditha atau kesejahteraan, keselarasan, dan kedamaian di dunia, manusia seharusnya hidup selaras dan serasi dengan alam. Generasi muda Hindhu bertekad untuk selalu melawan sikap-sikap kerakusan perilaku penebangan dan pembakaran hutan yang tidak semestinya,” kata Suparman.

Selain ogoh-ogoh, dari pantauan Timlo.net, sejumlah bentuk kesenian ikut ditampilkan dalam upacara sehari menjelang Hari raya Nyepi yang dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga itu. Diantaranya, tari Ramayana, jathilan, gamelan ganjur, sisingaan dari Kabupaten Subang dan lain sebagainya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge