0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Bisnis Properti 2016, Segmentasi Diuji

Setyo Piujis
seorang pengunjung sedang melihat pameran properti (Setyo Piujis)

Timlo.net – Bisnis properti di tahun ini diyakini bakal semakin bergeliat meski punya tantangan. Selain pemerintah sedang menggalakkan program satu juta unit rumah, kondisi ekonomi juga dinilai mulai membaik. Di sisi lain, pengembang dengan segmen menengah ke atas pun meyakini pasarnya tidak terganggu lantaran memilki segmentasi tersendiri.

PT Pondok Solo Permai (PSP), salah satu pengembang kawakan di kawasan Solo Baru optimis program rumah bersubsidi satu juta unit rumah yang sedang digenjot pemerintah tidak akan menggangu pengembang yang bermain di segmen menengah ke atas.

“2016 memang untuk rumah subsidi. Rumah kelas menengah keatas ini tren memang tidak begitu cepat karena pemerintah sedang meluncurkan rumah subsidi. Ada dampaknya, tetapi tidak signifikan karena kita sudah punya pasar sendiri,” kata Manajer Umum dan Personalia PT PSP, Ato Priyatno saat ditemui Timlomagz, belum lama ini.

Menurut Ato, faktor yang lebih berpengaruh bagi pengembang menengah ke atas adalah kondisi ekomomi secara nasional. Jika kondisi ekonomi nasional baik, secara otomatis daya beli masyarakat akan terdongkrak.

PT PSP sendiri, lanjut Ato, selama ini memang membidik segmentasi premium yakni tipe rumah 65 dengan luas tanah 150 m2 hingga tipe 345 dengan luas tanah 350 m2. Kisaran harganya mulai Rp 700 juta untuk tipe 65 dan Rp 4,5 miliar untuk rumah tipe 345.

“Kenapa (segmen kami) menengah ke atas karena disesuaikan dengan lokasinya. Orang milih produk properti yang paling utama dijadikan tolak ukur adalah lokasinya. Lahan yang kita punya memang dilokasi-lokasi premium. Ibaratnya di ring satu, sentralnya Solo Baru,” terang dia.

Guna memenangkan persiangan dengan kompetitor sesama pemain kelas menengah ke atas, akhir-akhir ini PT PSP melakukan menerapkan strategi baru bagi penjualan yakni dengan sistem pesan bangun. Sistem ini dinilai lebih efisien karena pengembang tidak harus mengeluarkan biaya perawatan jika rumah belum terjual. Semula, PT PSP menggunakan sistem ready stock.

“Kalau ready stock, dalam kurun waktu tertentu kan belum tentu habis produk kita. Sementara produk ini kan harus selalu siap saat calon konsumen melihat kondisi. Ini butuh biaya maintenance. Ini yang jadi satu pertimbangan,” ungkap dia.

Selain lebih efisien, sistem pesan bangun juga menjawab kepuasan konsumen. Melaui model pesan bangun ini, customer bisa mengajukan sedikit perubahan lay out pada rumah yang hendak dibangun. Sepanjang perubahan lay out itu tetap sesuai dengan standar tipe yang sudah ditetapkan.

Ditanya target penjualan yang ditetapkan tahun ini, Ato menarget bisa menjual dua klaster yang terdiri 20 unit. Harapannya 20 unit itu habis dalam empat tahun. Sementara di 2015, PT PSP bisa menjual 11 unit sejak 2014.

Meski sebagian pengembang tidak tergiur untuk melirik rumah bersubsidi, mayoritas pengembang yang tergabung di Real Estat Indonesia (REI) justru fokus menggarap rumah bersubsidi. Ketua REI Soloraya, Anthony Prasetyo mengatakan di tahun ini, REI fokus mendukung program pemerintah untuk mensuskseskan program satu juta unit rumah.

“Sebenarnya kita berbarengan. Ada yang menggarap segmen atas, ada yang segmen bawah. Mungkin porsinya 60 persen menggarap segmen bawah, 40 persen mengerjakan segmen atas,” kata Anthony.

Anthony menilai di tahun 2015, segmentasi properti kelas menengah ke atas sedikit mengalami penurunan. Lantaran itu, sebagian pengembang memilih menggarap segmen rumah bersubdisi dengan kisaran harga Rp 116 juta. Penyebabnya lainnya, berbagai keringanan pemerintah dalam rumah bersubdisi seperti bunga hanya lima persen dan uang muka yang hanya satu persen dinilai menjadikan segmen bawah sebagai pasar potensial.

“Dengan bunga hanya lima persen dan uang muka hanya satu persen diharapkan masyarakat bisa beli rumah dengan batasan harga 116 juta,” ujar dia.

Di daerah, Anthony berharap pemerintah betul-betul mendukung pengembang untuk mensukseskan program rumah bersubdisi melalui kemudahan birokrasi. Jika birokrasi berbelit, pengembang segmen bawah yang margin profitnya sudah tipis terancam bakal merugi.

“Kalau memecah sertifikat masih harus butuh waktu 6 bulan atau 1 tahun, developer bisa mati. Menurut saya, satu bulan harus selesai.Harapan kami, sinegi antara anggota REI dan pemangku kebijakan (regulator). Mari kita sama-sama mewujudkan ini. Dari sisi perizinan, birokrasi, sertifikasi tanahnya, semua harus bergandengan tangan agar program ini terwujud,” ujar dia.

Di tahun 2016, REI menargetkan bisa menjual 4.000 rumah bersubsidi. Target tersebut dinilai tidak terlalu berat mengingat realisasi penjualan tahun lalu sekitar 2.000 unit rumah selama satu semester. Dengan susksesnya program satu juta unit rumah, diyakni sektor riil akan bergerak.

“Mari kita dukung supaya sektor riil bergerak. Properti ini multi player efek terjadi karena dalam satu pengerjaan rumah banyak melibatkan komponen : penambang pasir, produsen batu bata, produsen semen, keramik. Segala sesuatu yang mendukung terbangunnya rumah,” ujar dia.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge