0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gerhana Matahari Total Disambut dengan Sukacita

dok.timlo.net/heru murdhani
Ritual menyambut Gerhana Matahari Total (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo —¬†Fenomena gerhana matahari total yang sebentar lagi akan dialami umat manusia di berbagai belahan bumi disambut sukacita oleh warga Solo. Sukacita ini diejawantahkan ke dalam sebuah seni ritual pertunjukan dan arak-arakan hasil bumi sebagai wujud syukur atas karunia yang maha kuasa.

“Peristiwa-peristiwa di alam raya seperti gerhana matahari ini harus direspon secara positif. Tidak dengan ketakutan-ketakutan,” ungkap Budayawan Suprapto Suryodarmo (71), di Solo, Minggu (6/3).

Dalam persepsi masyarakat Jawa kuno, menurut pria yang akrab disapa Mbah Prapto ini, terjadinya gerhana matahari diimajinasikan sebagai perbuatan Betara Kala (Dewa Waktu) yang hendak mencaplok bulat-bulat Matahari. Sedangkan gerhana bulan merupakan ulah dari Anoman, tokoh kera putih dalam epos Ramayana, yang akan menelan bulan. Ada pula fenomena jatuhnya meteor ke permukaan atmosfer bumi yang dimitoskan sebagai pagebluk yang membawa berbagai penyakit mengerikan.

“Imajinasi-imajinasi ini hendaknya tidak ditafsir menjadi sesuatu yang negatif, justru menjadikan rasa syukur dan berterimakasih terhadap Sang Pencipta Alam.” Terangnya.

Sedangkan dalam pandangannya sendiri, Mbah Prapto lebih menafsir bahwa bertemunya Matahari, Bulan, dan Bumi dalam satu garis ini adalah perkawinan alam raya yang sangat langka. Sehingga peristiwa ini harus diangkat sebagai pembaharu semangat hidup, optimisme, dan harapan baik bagi kehidupan.

Ritual sendiri dibagi menjadi dua bagian. Yakni prosesi arak-arakan gunungan hasil bumi dan ritual Kalahayu Surya Sembah. Prosesi diawali arak-arakan dari depan Rumah Dinas Walikota Solo Lodji Gandrung. Barisan yang diikuti oleh kelompok Topeng Ireng, kelompok Nini Thowong dan Loro Blonyo, kelompok Srimara, dan beberapa komunitas UKM dan pedagang pasar tradisional, berjalan ke arah timur. Sesampainya di depan Balai Soedjadmoko, rombongan kirab disambut dengan Tumpengan dan Adang Ageng (Jawa).

Ritual Kalahayu Surya Sembah direfleksikan dalam berbagai ritus, di antaranya adalah ritual pembuaran keris “Kyai Sangkir Plastik” oleh ki Daliman dari Besalen Meteor Putih; pertunjukan Wayang Tandur oleh Agus Bima Prayitno; dan tari ritual Kebo Awu Bumi Sembah, oleh Mbah Prapto. Tari ritual ini juga didukung pameran karya instalasi berjudul Anjang-anjang Banyu Rajah Kalahayu, serta diiringi Mantram Kalahayu.

Sebagai penutup, ritual menyambut gerhana ini adalah dengan tumpengan selamatan. Tumpengan nasi kuning yang sudah didoakan dibagikan bersama dengan nasi bancakan yang ditanak dalam prosesi Adang Ageng. Selanjutnya para peraga ritual, bersama masyarakat makan bersama atau yang dikenal dengan nama Kembul Bujana.

Salah seorang peserta ritual, Victor Hugo (Mexico) mengatakan dirinya sangat tertarik mengikuti berbagai ritual ini. Dia mengatakan di negeri asalnya, gerhana matahari dan bulan juga disambut dengan meriah. Bahkan penganut agama pribumi (suku Maya) menggelar berbagai upacara dan ucap syukur dengan harapan banyak energi positif yang bisa diserap manusia dengan cahaya matahari yang baru.

“Di negara saya, banyak suku pribumi menyambut datangnya gerhana. Mereka merayakan dengan memukul alat musik dari batu, mereka juga berdoa dan banyak menyerap energi positif dari gerhana matahari.” Katanya.

Dalam ritual kali ini, Victor berkolaborasi dengan kelompok Srimara membuat komposisi perkusif dari bambu. Komposisi ini adalah perpaduan antara beberapa negara di Amerika Selatan dan Eropa Timur. Komposisi ini bernuansa etnic lantaran juga kerap dibawakan saat perayaan tradisional di negara masing-masing.

“Komposisi perkusif dari beberapa negara, seperti Mexico, Polandia, Hungaria, Skotlandia, dan lainnya. Kita berharap juga bisa menyerap sesuatu yang baik, dan seimbang. Seperti kata Srimara sendiri yang artinya keseimbangan,” tukasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge