0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tersaingi dengan Kabupaten Satelit, Solo Perlu Proyek Monumental

Dok.Timlo.net/daryono
Abdul Ghofar Ismail (Dok.Timlo.net/daryono)

Solo – Perkembangan Kota Solo bidang infrastruktur dinilai kurang memiliki greget dibandingkan dengan sejumlah kabupaten satelit. Dikhawatirkan, ikon Kota Solo yang saat ini lebih maju akan tergerus dengan kabupaten seperti Karanganyar, Boyolali dan Sukoharjo.

“Tiga kabupaten yang berbatasan langsung dengan Solo ini tengah berlomba-lomba membangun sejumlah infrastruktur sebagai bangunan monumental dan ikon di kabupaten masing-masing,” terang Wakil Ketua DPRD Solo, Abdul Ghofar Ismail, Kamis (3/3).

Kabupaten Karanganyar, kata Ghofar, kini memiliki jembatan layang (fly over) di Kawasan Palur dan air mancur menari di Alun-alun Kota Karanganyar. Untuk Kabupaten Boyolali, berbagai ikon mulai dimunculkan seperti Monumen Sapi Ndekem, gedung DPRD sebagai miniatur gedung kura-kura MPR RI, serta akan disusul pembuatan beberapa simpang lima di sejumlah ruas jalan. Begitu juga yang dilakukan kabupaten Sukoharjo yang begitu bagus dalam pengelolaan kawasan Solo Baru sebagai sentra hiburan dan industri yang terus berkembang.

“Kalau seperti ini terus, Solo akan ketinggalan jauh dan tidak memiliki bangunan monumental untuk dijadikan kebanggaan masyarakatnya,” tandas Ghofar.

Dengan melihat perkembangan kabupaten di dekat Solo tersebut ia yakin dalam kurun waktu satu decade kedepan kota Solo akan tenggelam dan bukan menjadi tujuan utama pariwisata. Wisatawan tentunya lebih memilih daerah yang memiliki ikon-ikon unik dan menarik untuk berkunjung, sedangkan kabupaten tersebut pasti juga menyiapkan diri untuk menyambutnya dengan cara pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.

“Sekarang Solo hanya menjadi kota penyedia jasa, sedangkan wisatanya ke kabupaten lain,” katanya.

Senada, Sekretaris Komisi II DPRD Solo, Supriyanto mengatakan selama ini Pemkot Solo kurang serius dalam melakukan pembangunan sebuah ikon bangunan di Kota Solo. Dia mencontohkan, seperti pembangunan Monumen Banjarsari yang terkesan asal-asalan dan Air Mancur Plasa Manahan yang kurang maksimal.

“Untuk air mancur Plasa Manahan sebenarnya dapat dimaksimalkan karena berada di jalan utama. Tapi, sepertinya keseriusan Pemkot masih kurang,” kata Supriyanto.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge