0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Perang Cyber, Amerika Serikat Serang Jaringan Komunikasi ISIS

merdeka.com
ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net— Militer Amerika Serikat (AS) mulai melakukan serangan cyber ke ISIS. Dengan tujuan mengganggu kemampuan kelompok teroris itu untuk beroperasi dan berkomunikasi. Mereka  melancarkan serangan cyber terhadap jaringan internet ISIS, kata pejabat Departemen Pertahanan AS selama sebuah konferensi pers, Senin minggu ini.

Serangan ini merupakan bagian dari operasi bekerja sama dengan kekuatan militer Irak dan Kurdi untuk mengambil alih Mosul, markas ISIS di Irak Utara.

Serangan cyber ini didesain untuk membuat ISIS tidak bisa menggunakan jaringan mereka salah satunya dengan membuat jaringan mereka overload sehingga tidak bisa berfungsi. “Kami juga menggunakan alat-alat cyber untuk mengganggu kemampuan (ISIS) untuk beroperasi dan berkomunikasi lewat medan perang virtual,” , kata Menteri Pertahanan AS Ash Carter.

Ini adalah kali pertama Pemerintah AS mengakui jika mereka menggunakan serangan cyber sebagai bagian dari operasi militer. Walaupun militer AS mengakui jika mereka memiliki kemampuan untuk melakukan serangan cyber, biasanya mereka membantah jika mereka pernah menggunakannya sebagai bentuk serangan terhadap musuh.

Sebelumnya dunia sempat menuduh AS mengganggu worm komputer Stuxnet untuk menyerang fasilitas nuklir Iran, tapi AS membantah hal ini. Keterangan spesifik terkait serangan ini dirahasiakan.

“Kami tidak ingin musuh tahu kapan, di mana dan bagaimana kami melakukan serangan cyber,” kata Jenderal Joseph Dunford Jr., kepala dari the Joint Chiefs of Staff. “Kami tidak ingin mereka memiliki informasi yang akan mengizinkan mereka beradaptasi. Kami ingin mereka terkejut saat kami melakukan serangan cyber,” katanya.

Walaupun serangan cyber yang diungkap Senin ini berfokus di Mosul, Pemerintah AS juga dikabarkan menggunakan serangan cyber lain untuk mengganggu aktivitas online ISIS. Bulan lalu, US Cyber Command mulai sebuah serangan cyber yang agresif yang mentarget kemampuan ISIS menggunakan sosial media dan internet untuk merekrut pengikut dan menyebarkan propaganda.

Dengan ratusan juta orang menggunakan sosial media, ISIS dan para radikal lainnya menganggap sosial media sebagai lahan subur untuk menyebarkan ajaran mereka. Petinggi penegak hukum federal dan keamanan AS bertemu dengan para petinggi Facebook, Google, Twitter, Apple dan perusahaan lain untuk membahas cara Silicon Valley bisa membantu melawan terorisme.

Sumber: CNET.

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge