0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Misteri Kematian TKW Cantik Eka Suryani

dok.merdeka.com
Eka Suryani (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Penyebab kematian Eka Suryani (23), TKW asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih misteri. Kematiannya di Xiamen, Fujian, China, mengundang pertanyaan lantaran sesuai dokumen almarhumah berangkat mencari nafkah ke Hongkong.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou menginformasikan, Eka bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Tai Yuk Mui, di HSE 10 Peak House Tung Lo Wan Shan, Shatin, Hong Kong. Tetapi kematiannya di zona industry Xin Yu Ting, Luodong, Nanan, Quanzhou, Fujian, China.

Dugaan sementara kematian Eka akibat tersengat kebocoran listrik pada sistem pemanas air di kamar mandi. Eka di China sedang diajak majikan ke rumah keluarganya merayakan Imlek.

Keterangan tersebut dikeluarkan oleh KJRI Guangzhou berdasarkan hasil forensik Kepolisian Distrik Nanan, Provinsi Fujian. Tetapi kejanggalan muncul, karena sebelum kematiannya, warga Dusun Mulyosari RT 22/RW 08, Desa Mulyosari, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang itu mengaku kerap mengalami kekerasan dari majikannya.

Sebelumnya, pada 24 Juni 2015, Eka Suryani berangkat ke Hongkong melalui PT Surabaya Yudha Citra Perdana (SYCP). Dia sempat menjalani karantina di Sawojajar, Kota Malang, selama dua bulan.

Setelah bekarja beberapa bulan, Eka memberi tahu temannya kalau dipukul oleh majikannya dan berniat membuat laporan. Foto-foto yang menggambarkan bekas pukulan dikirimkan melalui media sosial.

Kemudian, Kamis 21 Januari 2016, Eka mengirimkan pesan WhatsApp kepada temannya TL yang menyatakan kalau majikannya sering main pukul. Pada suaminya juga mengaku mendapat saran dari teman-temannya untuk melapor ke agen.

Saran itupun dilakukan dan telah meminta notice. Eka mengirimkan gambar pipinya bekas ditampar majikan. Saat itu juga mengaku hampir dipukul dengan gayung air.

Lewat pesan, Eka mengaku pernah dituduh mengambil uang majikannya yang hilang 2 kali, sebesar $100 dan $200. Majikannya mengaku, sebelum Eka bekerja di rumahnya tidak pernah ada kehilangan uang.

Eka membantah tuduhan itu, tetapi tetap diminta untuk menganti uangnya. Kendati sudah dijelaskan, sang majikan tidak pernah percaya.

Keterangan terakhir dari Eka, bahwa dirinya akan segera pulang beberapa hari lagi. Karena merasa tidak betah tinggal di tempat tersebut. Lalu, Jumat 21 Januari 2016, pukul 10.30 malam waktu setempat sang majikan mengaku terakhir bertemu Eka.

Dan pada Sabtu 23 Januari 2016 pukul 08.00 pagi waktu setempat, Eka ditemukan meninggal dunia di kamar mandi dalam keadaan telanjang sambil memegangi shower.

Selasa, 26 Januari 2016 berdasarkan surat Kementrian Luar Negeri 02581/WN/01/2016/65 tertanggal 26 Januari Agency Employment Centre menerima kabar dari majikan Eka yang mengabarkan peristiwa tersebut.

Sabtu, 30 Januari 2016, Keluarga Eka di Kabupaten Malang menerima surat dari Direktorat Jenderal Protokol dan Konselor Hongkong. Surat tersebut menyatakan KJRI Hongkong menerima informasi dari Agensi AIE kalau Eka meninggal dunia pada 23 Januari di Xiamen, Fujian, RRT.

Penyebab kematian masih dalam penyidikan pihak berwajib. Pihak majikan telah melaporkan kejadian tersebut ke polisi setempat. Polisi juga telah menghubungi KJRI Hongkong. KJRI Hongkong dan KJRI Guangzhou memproses pemulangan jenazah.

Minggu, 31 Januari 2016, Indra Teguh Wiyono suami Eka membuat pernyataan menyetujui dilakukan autopsi jenazah Eka. Karena permintaan KJRI Hongkong jenazah itu akhirnya harus diautopsi.

Pertengahan Februari, Indra melalui pengacaranya mencabut surat permintaan autopsi. Keluarga meminta autopsi dilakukan di Indonesia, dengan pertimbangan keharusan meninggalkan sebagian organ tubuhnya.

Pada 18 Februari 2016, keluarga mengajukan pengantar autopsi ke Polres Malang.

Kamis 25 Februari 2016, jenazah Eka dikirimkan ke Indonesia dari Bandara Internasional Baiyun, Guangzhou, China dengan penerbangan Garuda Indonesia GA-889 landing di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Jumat, 26 Februari 2016, jenazah dikirim dari Jakarta ke Juanda, Sidoarjo dengan pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan GA-889. Sekitar pukul 11.45 WIB tiba di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk menjalani autopsi. [war]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge