0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hadirnya KUR Dinilai Ganggu Kinerja BPR

dok.timlo.net/setyo pujis
Dosen Unisri Suharno (kiri) saat menjadi narasumber di acara Bank Mandiri (dok.timlo.net/setyo pujis)

Solo – Hadirnya program Kredit Usaha Rakyar (KUR) dari pemerintah yang disalurkan melalui sejumlah bank, dianggap akan memberikan dampak buruk bagi kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Pasalnya segmen pasar yang akan dibidik program KUR tersebut memiliki kesamaan dengan BPR, yaitu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Sebenarnya di dalam aturan perbankan sudah diatur bahwa BPR mengambil ranah mikro dan bank umum di wilayah yang lebih besar. Namun ternyata program KUR ini efeknya berbeda dan justru membuat kanibal. Mengingat ada kesamaan segmen yang dibidik,” ujar pengamat perbankan dan juga dosen Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Suharno kepada wartawan, Kamis (25/2).

Oleh karena itu, menurutnya, sangat wajar jika BPR sekarang ini cukup kesulitan menyalurkan pembiayaan. Karena selain segmen yang dibidik sama, KUR menawarkan suku bunga murah atau 9 persen per tahun. Sementara produk pembiayaan dari BPR, suku bunganya lebih tinggi.

“Apalagi di aturan sekarang ini, nasabah BPR diperbolehkan untuk melakukan take over untuk mengakses program KUR. Tentu kondisi ini akan memberatkan kondisi BPR jika tidak ada inovasi,” jelasnya.

Sementara itu, Pengawas bank OJK Solo, Rizmah Nurchasanah dalam kesempatan yang sama menuturkan, jika BPR tidak akan terganggu dengan adanya program KUR yang dikucurkan oleh sejumlah bank. Karena selain bisa kerjasama dengan bank penyalur, BPR memiliki fokus tersendiri khususnya dalam pelayanan.

“Memang KUR memiliki kelebihan suku bunga rendah, tapi BPR juga memeliki kelebihan lain yaitu dipelayanan. Mengingat pendekatan ke nasabah yang dilakukan BPR selama ini lebih bersifat personal,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge