0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Soal Permendag Ekspor Produk Kehutanan, Bappeda Bingung

Klaten — Kunjungan kerja Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik, belum tentu menjadi jaminan pengusaha mebel asal Klaten meningkatkan ekspor ke Uni Eropa. Pasalnya eksportir terhambat terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 89/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan.

“Ya mohon maaf, kita di daerah dibuat bingung. Padahal ekspor produk kayu ke Inggris itu mensyaratkan SLVK (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu),” ujar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten Surti Hartini, Rabu (24/2).

Dalam Permendag tersebut, eksportir produk kehutanan tidak lagi diwajibkan melampirkan dokumen V-Legal sebagai syarat dokumen kepabeanan. Menurut Surti, pemerintah pusat tidak konsisten. Pasalnya, SLVK tidak hanya memenuhi peningkatan ekspor bisnis tapi juga melindungi lingkungan.

“Kalau buyer Eropa menghendaki semacam itu, kita mau bagaimana lagi. Kita berharap ada konsistensi dari pemerintah pusat kalau sudah ada pengusaha yang terlanjur punya SLVK ya terusin saja. Sudah dirintis payah-payah kenapa malah berbalik arah,” ucap Surti.

Sementara itu, Direktur Program Multistakeholder Forestry Programme, Smita Notosusanto menjelaskan, dampak terbitnya Permendag tersebut mengancam eksportir produk kehutanan Indonesia kehilangan akses pasar di Eropa. Sebagai bagian dari Uni Eropa, Inggris mewajibakan eksportir produk kehutanan mengantongi SLVK.

Ditambahkan, aturan tersebut mengecualikan produk mebel dan sekaligus melanggar kesepakatan sukarela bilateral Indonesia dengan Inggris dan Uni Eropa, Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT). Akibatnya, pemberian lisensi FLEGT untuk Indonesia akan tertunda.

“SLVK harus diuji, diuji, dan diuji dulu, setelah lulus baru dikasih kartu hijau (green card). Ini sudah hampir lulus, tiba-tiba Permendag ngasih aturan tidak mengharuskan. Maka ini menjadi salah satu alasan Dubes untuk datang kesini mendengarkan langsung dari hambatan eksportir,” ujar Smita.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge