0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kreasi Batik Tradisi dalam Kemeriahan Solo Karnaval

Solo Karnaval 2016 (timlo.net/achmad khalik)

Solo — Kemeriahan gelaran Solo Karnaval 2016 semakin hidup dengan hadirnya kostum yang mengeksplorasi keindahan batik. Tak hanya itu, gelaran yang menyemarakan hari jadi Kota Solo ke-271 tersebut juga mengkolaborasikan unsur tarian serta etnomusikal dalam bingkai tema “Batik is My Life”.

Kreasi antara kostum batik dan seni pertunjukan mampu menyatu dalam riuhnya sebuah karnaval. Tak mau kalah, masyarakat juga nampak antusias meski rintik hujan masih sedikit mewarnai gelaran yang dimulai dari Rumah Dinas Walikota Solo, Loji Gandrung hingga Bundaran Gladag.

Dibarisan depan, nampak pasukan drumband dari Gita Pamong Praja Pemkot Solo yang mengusung aransemen lagu perjuangan. Disusul dengan barisan kereta kencana yang dinaiki oleh Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo dan sejumlah putra putri Solo sebagai simbol boyong kedaton dari Keraton Pajang menuju Keraton Solo.

“Garapan Solo Karnaval kali ini sedikit berbeda jika dibandingkan sebelumnya. Kali ini, lni lebih didominasi dengan performance jalanan dan kreasi kostum batik dengan motif etnik, sogan, maupun parang,” Ketua Panitia, Fafa Utami, Minggu (21/2).

Tak mau kalah, pasukan Etnomusikologi juga ikut meramaikan parade karnaval dengan alat-alat musik seperti gendang, terompet, kenong dan masih banyak yang lain. Pasukan Etnomusikologi dari kelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI), Shu Musik Percussion dan Kulino Reot Perkusi ini juga turut meramaikan suasana karnaval melalui tabuhan musik yang membuat suasana karnaval menjadi lebih hidup. Dengan menggunakan kostum batik berwarna terang, rombongan ini terlihat begitu menonjol diantara rombongan yang lain.

Terakhir, barisan dengan modifikasi batik kreasi juga membuat masyarakat ingin larut dalam kemeriahan karnaval. Tak sedikit dari masyarakat mengajak para peserta karnaval batik kreasi tersebut untuk berselfie bersama.

“Total ada sebanyak 28 kelompok dengan peserta kirab mencapai 650 orang,” kata Fafa.

Tak hanya suasana karnaval semata, panitia juga menyediakan Pasar Krempyeng Batik di Kawasan Jalan Jendral Sudirman. Upaya ini dilakukan, untuk mendongkrak industri batik yang selama ini menjadi kebanggaan dan warisan leluhur bangsa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbubpar) Kota Solo, Eny Tyasni Suzana menyatakan Solo tidak dapat lepas dari batik dan kegiatan karnaval ini untuk menguatkan yang sudah ada.

“Boyong Kedaton dan Batik ini merupakan warisan leluhur yang lahir di Kota Solo. Masyarakat harus senantiasa ingat supaya tidak hilang terhapus jaman,” kata Eny.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge