0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Festival Jenang, Ada Jenang dari Aceh hingga Papua

(Salah satu stand, jenang pedas dari Kalimantan (Timlo.net/Ahmad Khalik))

Solo — Dewi Rahmawati (31) nampak antusias mencicipi aneka macam jenang yang dihadirkan dalam kegiatan Festival Jenang Solo 2016 di Kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi Solo, Minggu (14/2) pagi. Meski berdesak-desakan dengan warga yang lain, namun hal itu tidak menyurutkan semangat ibu dua anak tersebut.

“Pengen nyobain jenang dari kawasan lain, seperti Papua, Kalimantan dan Aceh. Apa sih yang membedakan jenang dari Solo dengan daerah lain,” terang Dewi saat ditemui Timlo.net disela waktu bersantap di Kawasan Ngarsopuro tersebut.

Usai merasakan masakan yang dibuat secara langsung dikawasan CFD itu, Dewi mengaku ketagihan. Meski begitu, dirinya sadar harus berbagi dengan masyarakat yang lain.

“Memang agak berbeda rasanya dibandingkan dengan jenang biasanha (dari Solo-red) ada yang rasanya pedas, ada yang berkuah. Macem-macem pokoknya. Tapi enak kok,” kata warga Jebres tersebut.

Festival Jenang 2016 yang mengusung tema “Ragam Jenang Nusantara” ini ingin mengenalkan kekayaan kuliner budaya nusantara khususnya jenang ke masyarakat. Banyak, diantara masyarakat yang tidak mengetahui kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Bangsa Indonesia itu kaya, baik alamnya, kebudayaannya hingga kulinernya. Termasuk salah satunya makanan olahan jenang tersebut,” terang Penasehat Yayasan Jenang Indonesia (YJI) GPH Dipokoesoemo dalam sambutannya.

Ada delapan stand yang yang dibuka oleh pihak panitia. Stand yang berada di Kawasan Ngarsopuro ini menyajikan sejumlah kuliner jenang mulai dari Aceh, Kalimantan, hingga Papua. Tak kalah antusias dengan pemilik stand, masyarakat juga telah berjubel mengantri sejak pembuatan awal jenang dimulai. Ditangan mereka, juga telah memegang takir (wadah makanan) yang siap diisi dengan jenang yang telah matang.

“Harapannya, masyarakat lebih mengenal dan mencintai makanan khas Indonesia,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Jenang Indonesia, Slamet Raharjo.


Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge