0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kartel Garam Gentayangan, Produksi Lokal Loyo

Petani garam (merdeka.com)

Timlo.net – Pemerintah menutup kebutuhan garam tanah air dengan melakukan impor. Selama ini, kebutuhan garam nasional setiap tahunnya mencapai 3,5 juta ton. Namun, produksi garam lokal hanya mencapai 2,2 juta ton per tahun.

Produksi nasional tersebut berasal dari dari BUMN yaitu PT Garam dengan produksi rata-rata hanya 300.000-330.000 ton. Sedangkan, produksi petambak mencapai 1,3-1,5 juta ton dari lahan sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa dan Pantai Selatan Madura.

Direktur Utama PT Garam Ahmad Budiono mengatakan kondisi garam dalam negeri sangat memprihatinkan, ini disebabkan masih banyaknya kartel-kartel dalam industri pengelolaan yang mengambil keuntungan tidak wajar.

“Komoditas satu strategis pangan, kondisinya tidak terlalu menggembirakan di negara kita, karena kartelnya banyak yang mengatur tata niaga, bisnis dan investasi banyak kartel banyak menguntungkan dan bisnisnya menarik,” ujar dia, Kamis (11/2).

Ahmad mengakui kebutuhan impor garam di dalam negeri terbilang masih sangat besar. Apabila, industri garam mati maka kartel-kartel juga akan merajalela dan mempermainkan harga garam impor.

“Karena dikelola kartel kinerja garam nasional dikatakan tiarap, termasuk PT Garam sendiri, hidup segan tapi tidak mungkin mati, karena ini satu-satunya BUMN kalau mati maka kartel akan berbahaya, maka dikasih sengaja mainan kecil,” jelas dia.

Total produksi garam nasional sebanyak 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan akan garam mencapai 3,7 juta ton. Dari 3,7 juta ton garam, terbagi dalam kluster yakni garam konsumsi sebanyak 1,5 juta ton, garam farmasi atau garam industri sebanyak 2,2 juta ton.

“Karena ladang garam biasanya berdampingan usaha rakyat harus bisa kualitas produksi garam tapi kita belum mencapai standar yang kita harapkan,” jelas dia.

[sau]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge