0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Padukan Seni dan Kreatifitas, Bambu Wulung Ini Jadi Lukisan Atraktif

timlo.net/tarmuji
Pancoko memamerkan hasil karyanya (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri – Ditangannya, batang-batang bambu wulung ini, disulap menjadi sebuah hiasan dinding yang menarik dan bernilai ekonomis tinggi. Meski terbilang baru belajar, namun hasil karya pria 35 tahun penganut aliran seni kriya ini patut diacungi jempol.

Pancoko, warga Pokoh RT 3/RW 3 Kelurahan Wonoboyo, Wonogiri Kota ini dengan sabar menyerut batang-batang bambu. Selain bambu wulung, alat-alat lain yang digunakan adalah alat ukir, lem bakar, cat melamin, serta kertas sebagai bahan membuat pola lukisan.

Seni kriya merupakan seni lukis yang memadukan fungsi dan keindahan. Biasanya lukisan ini menggunakan media kertas atau pun kain. Namun, Pancoko memanfaatkan batang bambu sebagai media. Lukisan yang dihasilkannya beragam. Koleksi saat ini yang ia miliki, baru bertema tokoh-tokoh besar Indonesia. Seperti, Iwan Fals, Bung Karno, dan Pak Harto.

Keahlian yang ia miliki tidak ia dapatkan dari bangku sekolah. Tetapi diperolehnya dari seorang kerabat yang terlebih dahulu menekuni dunia seni kriya.

“Bambu wulung ini dipotong sepanjang 30 centimeter atau menurut selera sesuai ukuran bingkai gambar yang akan kita buat,” terang Pancoko saat dijumpai di kediamannnya, Minggu (7/2).

Sebelum dilakukan pengukiran pada batang bambu, Pancoko terlebih dahulu harus menggambar tokoh maupun idola yang menjadi obyek gambarnya. Dengan kertas ukuran A5, pensil 2B pun ia mainkan menurut imaginasinya.

“Setelah selesai melukis sketsanya, lalu kita tempel kertas tadi, melingkari batang bambu, sebelumnya kita olesi dahulu dengan lem, kemudian kita mulai mulai mengukir dengan alat ukir meniru sketsa itu tadi,” jelasnya.

Selanjutnya, setelah bambu-bambu yang basah tersebut selesai diukir, kemudian di diamkan hingga kering selama dua hingga tiga hari. Kemudian batang bambu tersebut dibelah.

“Dibelah kecil-kecil, sekitar tiga centimeter. Nah, lalu sisi bagian dalam dan samping kita haluskan, kemudian bilah bambu tadi kita satukan menggunakan lem bakar, hingga menjadi sebuah lukisan,” ujarnya.

Untuk proses finishing, Pancoko mengoleskan cat melamin, sehingga membuat lukisan bambu terlihat hidup. Namun sayangnya, karya seni Pancoko ini belum dijual untuk umum, dia mengaku karya seninya ini barulah sebatas untuk koleksi pribadi.

“Tapi tidak menutup kemungkinan, ke depannya hasil kerajinan ini akan saya buang ke pasaran,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge