0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Alumni UNS Luncurkan Buku tentang Pasoepati

dok.timlo.net/aryo yusri atmaja
Devi Fitroh Laily (kiri) memberikan buku hasil karyanya kepada sesepuh Pasoepati, Kris Pujiatni di sela-sela peluncuran buku berjudul "Kota, Klub, dan Pasoepati", Jumat (5/2) malam (dok.timlo.net/aryo yusri atmaja)

Solo — Rasa penasaran berujung pembuatan sebuah buku. Itulah yang dilakukan oleh alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Devi Fitroh Laily. Tulisan eks mahasiswa Sosiologi FISIP UNS ini menjadi hasil karya berupa buku setebal 131 halaman yang diberinya judul “Kota, Klub, dan Pasoepati”. Sebanyak 300 eksemplar buku dirilisnya pada cetakan pertama, dengan harga Rp 50 ribu.

Proses penulisan bukunya selama satu tahun, akhirnya diluncurkan ke publik di Ralana Eatery, Jumat (5/2) malam. Bedah buku sekaligus diskusi bukunya, semakin lengkap dengan kehadiran para tokoh persepakbolaan Kota Solo. Presiden pertama Pasoepati Mayor Haristanto, Direktur Bisnis Persis Solo, Her Suprabu, dosen Sosiologi UNS Akhmad Ramdhon, sesepuh Pasoepati Prapto Koting, dan puluhan anggota Pasoepati turut menyemarakkan.

Di dalam bukunya, Devi menuliskan tentang sejarah berdirinya salah satu suporter terbesar di Indonesia yakni Pasoepati, mulai dari cikal bakal terbentuknya hingga sampai saat ini. Banyak peristiwa yang dilalui Pasoepati kemudian ditulisnya dari berbagai literasi dan sumber penulisan.

Devi menceritakan awalnya terbawa hingga kepada sebuah penulisan buku ini adalah karena rasa penasaran. Dirinya mengaku baru mengenal dan tertarik dengan dunia sepak bola Kota Solo dan Pasoepati pada tahun 2014, saat Persis mampu menembus babak 8 besar Divisi Utama.

“Saya memang suka sepak bola, bukan Persis Solo, tapi Chelsea. Tapi kenapa saya bisa tertarik dengan Pasoepati dan akhirnya keluar buku ini, karena penasaran. Ketertarikan pertama adalah dengan aksi atraktif suporter ini saat saya menonton Timnas di Manahan tahun 2014,” ujar gadis kelahiran Solo, 17 Maret 1993 ini.

“Jujur awalnya embrio buku ini sempat ingin saya ajukan untuk bahan skripsi saya di UNS. Namun batal, karena saya mengganti dengan studi kasus lainnya. Kemudian tulisan tentang Pasoepati saya lanjutkan lagi hingga menjadi buku,” imbuh Devi yang merupakan anggota Pasoepati Campus ini.

Dirinya baru berusia tujuh tahun ketika suporter fanatik Pasoepati lahir pada tahun 2000. Namun hal tersebut tak membuatnya ciut nyali untuk membongkar sejarah fans dari masa ke masa yang awalnya terbentuk karena kehadiran klub Pelita dari Jakarta ke Solo ini.

“Saya pun penasaran dengan mengunjungi Monumen Pers dan Balai Persis Solo. Saya juga menemui pemain-pemain Persis masa lalu untuk memperkuat buku ini. Saya ngobrak-ngabrik koran di Monumen Pers dengan pemberitaan awal terbentuknya Pasoepati. Bertemu dengan para pendiri, mantan petinggi di Pasoepati,” lanjutnya.

Diakuinya pula, kesulitan selama pembuatan buku Kota, Klub, dan Pasoepati adalah menyisir berbagai insiden kelam antara suporter Pasoepati dengan pendukung PSIM Brajamusti, dan PSIS Semarang Panser Biru. Menurutnya membutuhkan perjuangan keras untuk mencari sumber insiden gesekan antara suporter Solo, Jogja, dan Semarang.

“Di situ kesulitannya. Namun kini sudah terbayar dengan lahirnya buku ini. Untuk buku kedua atau next project belum ada rencana lagi,” tandas Devi.

Lahirnya buku ini pun mengundang komentar dari tokoh-tokoh sepak bola di Kota Bengawan. Presiden pertama Pasoepati, Mayor Haristanto menuturkan adanya buku ini membuat Pasoepati yang kini sudah berusia 16 tahun bisa ikut kembali ke masa lalu, di saat awalnya lahir.

“Awalnya Pasoepati terbentuk dari klub Pelita Solo yang bermarkas di Solo. Awalnya ada pilihan Pelita Mania atau Pasoepati. Namun dipilihnya Pasoepati yang bisa kekal meskipun sempat menjadi pendukung sejumlah klub awalnya. Sejak awal terbentuknya memang tidak dipatenkan, agar tumbuh besar,” ujarnya.

“Pasoepati sudah menjadi identitas Kota Solo, dan aset yang luar biasa bagi Persis Solo. Pasoepati adalah pemain ke 12. Kami semua berharap agar situasi persepakbolaan Indonesia segera membaik,” beber Direktur Bisnis Persis, Her Suprabu.

“Solo menjadi kota yang banyak hal berhubungan dengan adanya Pasoepati. Jauh ke belakang belum pernah melihat tukang becak ataupun anak-anak mengenakan atribut suporter, sebelum ada Pasoepati. Namun semua berubah setelah Pasoepati lahir,” tandas Dosen Sosiologi UNS, Akhmad Ramdhon.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge