0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Menilik Sejarah Ndalem Joyokusuman

Jaksa Agung HM Prasetyp melihat bagian bangunan Ndalem Joyokusuman (dok.timlo.net/daryono)

Solo —  Ndalem Joyokusuman kini resmi menjadi aset Pemerintah Kota (Pemkot) Solo setelah Kejaksaan Agung menghibahkan secara resmi ke Pemkot, Rabu (3/2). Lantas bagaimana sejarah Ndalem Joyokusuman sehingga mendorong Pemkot mengelolanya?

Ndalem Joyokusuman diperkirakan dibangun tahun 1849, terlihat dari angka berhuruf Jawa yang tertulis di atas pintu Ndalem. Pemilik pertama adalah Bendoro Kanjeng Pangeran Harya (BKPH) Suryo Broto yang merupakan salah satu putra Paku Buwono X. Kepemilikan Ndalem kemudian beralih ke tangan putra PB IX, BKPH Joyoningrat di tahun 1939.

Di tahun 1953, Ndalem Joyokusuman dihuni oleh BKPH Meester in de Rechten (MR) Joyokusumo yang kemudian dipakai sebagai nama bangunan hingga sekarang. MR Joyokusumo adalah putra PB X.

Kepemilikan Ndalem Joyokusuman kemudian dibeli oleh RNg Malkan Sangidoe pada tahun 1965. Setelah itu sekitar tahun 2005/2006, Ndalem Joyokusuman dibeli Wijanarko Puspoyo. Kejaksaan Agung kemudian menyita Ndalem Joyokusuman lantaran dianggap sebagai hasil korupsi Wijanarko Puspoyo ebagai Kepala Bulog.

“Ndalem Joyokusuman adalah ndalem tempat tinggal bangsawan. Kepemilikannya memang berpindah-pindah,” kata Kepala Bidang Cagar Budaya Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, Mufi Raharjo.

Mufti menyampaikan, bagian bangunan Ndalem Joyokusuman masih komplit, mulai dari kori, topengan, emperan, pendopo, pringgitan, balai warni, balai peni, ndalem ageng, senthong, krobongan. Jika di masa lalu, Ndalem Joyokusuman berfungsi sebagai kediaman, setelah dikelola Pemkot tidak akan berfungsi lagi sebagai kediaman atau tempat tinggal.

“Ke depan akan difungsikan sebagai pusat seni,” ujar dia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge