0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pasca Kasus Mirna, Penjual Racun Was-was

merdeka.com
ilustrasi racun (merdeka.com)

Timlo.net – Pasca kasus kematian Mirna, kini para pemilik toko bahan kimia rupanya sudah was-was. Mereka meyakini jika toko mereka diawasi oleh pihak berwenang.

Bukan tanpa sebab, peredaran zat berbahaya seperti Sianida dan Borak rupanya masih bisa didapatkan bebas di toko-toko bahan kimia.

Syaratnya adalah pembeli itu telah dikenal. Jangan heran jika pembeli lain sulit mendapatkan bahan kimia ini.

“Hanya kita jual ke orang yang kita kenal,” ujar BR, pelayan toko bahan kimia di bilangan Jakarta Timur, kemarin.

BR menyebut jika pembeli sianida ialah para pengusaha industri rumahan. Namun dia tidak menyebut secara gamblang maksud industri itu.

“Kalau sekarang lebih hati-hati,” ujar BR.

Dia pun menuturkan, sebelum ramai kasus pemberitaan Mirna karena ditemukan racun dalam lambungnya, rupanya para pemilik toko memang memiliki kewaspadaan jika tempat usahanya diawasi. Karena ada beberapa zat beracun dilarang peredarannya secara bebas.

Menurut dia, sudah sejak lama khususnya peredaran bahan kimia seperti sianida tidak lagi di perjualbelikan secara bebas di toko-toko. Bahkan sejak Januari tahun lalu, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama telah berbicara mengenai hal ini. Menurut Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, bagi penjual makanan mengandung bahan kimia bakal dicabut izin usahanya.

Dia pun menandatangani Memorandum of Understanding dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengatasi persoalan ini. Belakangan Kepolisian Daerah Metro Jaya dan BPOM juga telah mengeluarkan pelarangan untuk tidak menjual zat-zat berbahaya. Salah satunya ialah Sianida dan Borak.

Meski demikian menurut BR, sianida justru bisa diperoleh dan masih diperjualbelikan di toko-toko bahan kimia. Hanya mereka tidak bisa memperoleh dalam jumlah besar karena memang dibatasi.

“Di setiap toko ada cuma barangnya terbatas,” tuturnya.

Dia pun mengatakan jika saat ini tak ada toko menjual sianida secara terbuka, karena kasus Mirna menjadi pemicu toko-toko bahan kimia diawasi.

Meski demikian, sianida itu bisa diperoleh di sebuah toko bahan kimia di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

“Ada di Senen,” katanya.

Sianida dijual di toko-toko bahan kimia ini memang kebanyakan dibeli oleh para pelaku industri. Mereka memanfaatkan itu untuk bahan bantu industri.

Bentuk yang dijual adalah cair. Namun pembeli tidak bisa memperoleh dalam jumlah banyak karena dibatasi dan dijual melalui toko-toko kecil dengan cara sembunyi.

“Jual per botol, yang dijual bentuk cair,” katanya.

Terkait peredaran zat kimia berbahaya di toko-toko khusus di Jakarta, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta Irwandi mengatakan jika sejauh ini pihaknya telah berupaya memetakan tempat-tempat menjadi titik perdagangan bahan kimia. Dia menyebut bahan kimia berbahaya paling banyak di jual di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat dan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sementara untuk menekan peredaran zat kimia berbahaya tersebut, Irwandi juga sudah memperketat penyebaran melalui distributor.

“Tidak boleh menyalurkan sembarangan kecuali untuk industri dan bahan bantu industri, ” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Dia pun menjelaskan soal izin untuk perdagangan zat kimia berbahaya. Menurut Irwandi, pedagang sekelas distributor harus memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan Bahan Berbahaya.

[arb]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge