0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

20 Tahun, Sudar Berburu Rupiah di Perairan WGM

dok.timlo.net/tarmuji
Sudar memperbaiki jalanya yang sudah robek tersangkut akar semak di dasar perairan WGM (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Sudah sekitar 20 tahun, Sudar merajut asa, mengais rejeki di perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM), Wonogiri. Profesi yang dialami bapak enam anak ini pun penuh resiko.

Semenjak Waduk Gajah Mungkur dibangun, Sudar sudah menekuni usaha yang sebenarnya ia tidak harapkan. Bahka, demi menafkahi keluarga, ia rela berpisah dengan anak istrinya yang tinggal di Gombong, Kebumen.

Saban harinya, Sudar mengitari genangan WGM menebar jala. Tak hanya siang hari, namun di saat malam hari pun, dia mencari ikan dengan menggunakan perahu kecil miliknya. Hasil tangkapannya erbagai jenis ikan, mulai dari nila, patin dan tawes.

Selama ini, Sudar menetap di Kecamatan Baturetno. Untuk tempat tinggal, dia menumpang di rumah kakak perempunya, yang lebih dulu tinggal di Baturetno. Setiap harinya menempuh jarak empat kilometer, bolak-balik menuju perairan WGM, dengan sepeda motor. Berbekal jala rakitan yang dibuat sendiri, dia memulai mengayuh perahu kayu ke tengah perairan,b erharap mendapat ikan banyak. Selepas Subuh, dia sudah menebar jala, di atas perahunya. Ketika senja mulai menapaki, Sudar pun kembali memarkirkan perahunya di tepi perairan.

“Kalau pas musim ikan atau musim penghujan seperti ini, hasil tangkapan lumayan, Mas,” ujar Sudar sembari merajut jalanya, Sabtu (30/1).

Tak sampai di pasar, hasil tangkapan Sudar sudah ditunggu para tengkulak ikan. Setiap kilonya, untuk ikan nila dihargai Rp 25 ribu, dan ikan patin Rp 15 ribu. Sedang ikan betutu dan ikan kutuk (gabus) dia jual sendiri ke pengepul lainnya.

“Kalau ikan yang kecil-kecil ini dihargai Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu perkilonya,” jelasnya.

Namun beberapa tahun belakangan ini, ia mengaku jika hasil tangkapannya menurun. Hal itu terjadi lantaran maraknya branjang apung (jala karamba) yang dilakukan sekelompok nelayan. Padahal branjang apung sendiri dilarang, bahkan dinas terkait kerap merazia, namun saja mereka main kucing-kucingan dengan petugas.

“Branjang apung itu kan,menangkap semua jenis dan ukuran ikan,belum lagi kalau malam hari itu ada nelayan yang menggunakan jaring pukat,itu semua ikan pasti terangkut. Terus yang nelayan seperti saya, yang menggunakan jala dan jaring ini kadang-kadang dapat ikan, kadang tidak. Padahal setiap bulan saya harus mengirimi uang anak dan istri saya,” tegasnya.

Dia berharap pemerintah tegas mengatasi persoalan branjang apung ini. Pasalnya, jika dibiarkan berlarut-larut, keberadaan branjang apung akan merusak ekositem WGM.

Nampak guratan-guratan di wajah tuanya namun Sudar tetap berharap ikan-ikan WGM mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. “Banyak nelayan yang bergantung hidupnya terhadap perairan WGM ini. Mereka menaruh harapan besar untuk kehidupan yang lebih baik,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge