0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Perajin Caping dari Gendingan, Sehari Pasarkan 500 Caping

timlo.net/agung widodo
Wardi, perajin caping dari Gendingan, Kelurahan Sragen (timlo.net/agung widodo)

Sragen – Kendati mayoritas warga Sragen berprofesi sebagai petani, tapi tidak banyak para pelaku usaha kecil menenengah (UKM) di Bumi Sukowati bisa menangkap peluang usaha yang menjanjikan. Yakni pembuatan caping (Bahasa Jawa: copil) sebagai peluang yang menguntungkan.

Wardi (46), warga Kampung Gendingan RT 1/RW 9, Kelurahan Sragen Tengah bisa dibilang satu-satunya pengrajin caping di Bumi Sukowati. Caping yang dihasilkannya, selain banyak di jual di pasar-pasar, juga dikirim ke wilayah Soloraya. Bahkan banyak permintaan dari luar jawa seperti Sumatera, Sulawesi dan Papua.

Usaha ini dirintis pertama kali oleh kakeknya, sekitar tahun 1960-an , dilanjutkan ke orang tuanya hingga ke sekarang ke tangan Wardi. Bersama istrinya, Sri Wahyuni (42) dia kemudian mengembangkan usaha pembuatan caping pada tahun 1980-an hingga sekarang. Waktu itu modal awalnya sekitar Rp 5 juta.

Memang caping yang dibuatnya itu tidak berawal dari nol atau bahan baku mentah. Tapi Wardi sendiri mengambil caping setengah jadi itu dari Kabupaten Magetan.

Dia mengambil caping setengah jadi yang belum dilengkapi dengan blengker (tempat kepala berbentuk lingkaran), ceplok (berbentuk kembang yang ada di pucuk caping) dan klanthe (tali).

“Jadi kita ambilnya hanya caping yang belum jadi, nanti blengker, ceplok dan klanthe kita rangkai di sini,” kata Wardi saat ditemui di rumahnya.

Setiap hari pasaran Wage, Wardi mengambil caping di Magetan. Karena pasar bukanya pukul 03.00 WIB dini hari, maka dia berangkat dari rumah sekitar pukul 01.00 WIB. Sekali ambil Wardi mengaku bisa 10.000 lebih caping dan blengker untuk kemudian dibawa pulang dan sempurnakan menjadi caping yang siap pakai.

Dia menuturkan, untuk merangkai caping setengah jadi, dilengkapi dengan blengker, ceplok dan klanthe dibantu oleh sekitar 13 orang tenaga. Setelah sempurna, barulah caping tersebut mulai dipasarkan dan dikirim ke berbagai kota. Untuk harga setiap caping bervariasi mulai dari Rp 8.500 hingga Rp 10.000

“Setiap hari kita bisa memasarkan antara 200 caping hingga 500. Tergantung musimnya. Biasanya kalau mendekati lebaran, musim panen atau musim hujan memang banyak permintaan,” terangnya.

Dari modal awal sebesar Rp 5 juta pada tahun 1980-an tersebut Wardi mengaku sekarang omsetnya telah mencapai Rp 15 juta per bulan.

Namun demikian selama dia menggeluti usaha caping, belum pernah mendapatkkan bantuan dari pemerintah. Hanya sempat beberapa kali dikunjungi oleh Kementerian Perindustrian, tapi tidak ada kelanjutannya.

“Mereka di sini Cuma lihat-lihat an foto-foto,” ujarnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge