0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Christina Salim Beberkan Kunci Sukses Usahanya

dok.timlo.net/setyo pujis
Christina Salim (dok.timlo.net/setyo pujis)

Solo – Menjadi anak tunggal dan memiliki suami berada secara ekonomi, tidak selamanya membuat perempuan manja. Christina Salim salah satunya, perempuan kelahiran Medan 1986 ini rela bekerja keras setiap hari, karena ingin mandiri dan tidak tergantung terhadap orang lain.

Memiliki sikap yang tegas, ulet dan teguh dalam pendirian, memperlihatkan sosok ibu dua anak ini nampak begitu berbeda dari perempuan pada umumnya. Bagaimana tidak, seabrek kesibukan sebagai ibu rumah tangga tidak lantas membuatnya mengeluh. Bahkan di waktu senggangnya, ia relakan untuk merintis sebuah usaha yang menuntut banyak pikiran dan tenaga.

Keputusan untuk terjun dalam bidang usaha ia lakukan saat setelah menikah, dan persisnya pada 2012 silam setelah ikut pindah rumah mengikuti suami di Solo. Berangkat dari kesukaanya memasak puding saat masih kuliah, Christina akhirnya memantapkan diri untuk menekuni sebuah usaha rumahan yang diberi nama MissLittle Puding.

“Awalnya memang bingung mau usaha apa, namun karena suami teringat waktu dibuatkan puding saat pacaran dulu. Akhirnya ia mendorong saya untuk menseriusi dan membikin usaha rumahan agar ada kesibukan,” ujarnya kepada Timlo.net, belum lama ini.

Maklum saja, karena dibesarkan dalam keluarga pengusaha membuatnya sangat tidak nyaman jika harus berpangku tangan dirumah. Terlebih suaminya juga sangat mendukung jika memang usaha yang akan dilakukan tidak menggangu kewajibanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Karena memang baru pindah dan belum memiliki relasi bisnis yang mendukung, ia mengaku sempat kerepotan saat mengawali usaha. Menyebar brosur, memasarkan lewat sosial media menjadi kegiatannya sehari-hari agar bisa memasarkan produk pudingnya.

Setelah hampir dua tahun menekuni MissLittle Puding tersebut, akhirnya secara bertahap mulai ada beberapa customer yang tertarik dan menyukai olahan pudingnya. Bahkan diantaranya mendorong untuk dapat membuat tempat yang bisa digunakan untuk nongkrong sambil mencicipi menunya.

“Melihat animo tersebut, akhirnya sang suami kembali mendukung dengan menyediakan tempat didepan rumah untuk dibikin sebuah resto & cafe. Hanya saja suami menyarankan  untuk tidak hanya puding tapi juga menu lainya,” ungkap dia.

Semenjak saat itu, usahanya mulai tumbuh berkembang dan bahkan sempat booming karena mengingat pada waktu itu konsep resto and cafe masih cukup jarang pesaingnya di Kota Solo. Ekspansi usahanya pun terus berlanjut, tidak hanya puding yang memiliki topping buah sebagai menu khas olahanya, tapi juga makanan lain seperti soup,  pancake, pannacotta, nasi udang dan banyak lagi lainya.

Bahkan dari keseriusannya itu, sekarang ia telah memiliki 6 karyawan dengan omzet lebih dari Rp 30 juta setiap bulan.

Perempuan lulusan Psikologi Universitas Surabaya angkatan 2004 ini memang terlihat cukup perfeksionis dari keseharianya.  Namun siapa sangka, di balik sikap tegas dan perfeksionisnya itu ternyata Christina juga memiliki sifat terbuka dan rendah diri. Hal itu terlihat dari caranya menjalin dan merawat hubungan dengan customer maupun karyawanya.

“Bahkan kalau memang customer ada komplain dan itu memang kesalahan kita, saya tidak segan untuk meminta maaf dan memberikan komplementer kepada mereka,” tandasnya.

Menurut Christina, memiliki mental entrepreneur bagi setiap perempuan itu sangat diperlukan. Karena baginya tidak hanya soal mandiri dan tidak menggantungkan nasib kepada suami. Melainkan untuk mempersiapkan diri, terhadap kemungkinan nasib yang tidak seorangpun tahu apa yang akan terjadi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge