0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gawat! Alat Pendeteksi Longsor Tak Berfungsi Sempurna

dok.timlo.net/nanang rahadian
Alat deteksi dini bencana longsor (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Belasan alat early warning system (EWS) atau alat deteksi dini terjadinya bencana longsor yang dipasang di sejumlah lokasi di Karanganyar, tak lagi berfungsi maksimal. Pasalnya, selain karena terjadi perubahan struktur tanah di lokasi pemasangan juga teknologinya masih manual sehingga perekaman data tidak akurat. Total, ada 14 EWS yang dipasang di titik-titik rawan longsor di Bumi Intanpari.

“14 EWS yang terpasang saat ini adalah hibah dari lembaga nonpemerintah pada 2011 lalu,” kata Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nugroho, Rabu (27/1).

Menurutnya, teknologi pada alat tersebut sudah ketinggalan jaman karena system operasinya msih manual. Sirene alat yang dipasang di titik rawan longsor tersebut akan berbunyi, jika terjadi pergerakan tanah dengan skala besar.

“Karena terjadi perubahan struktur tanah akibat longsor, fungsi alat menjadi tidak maksimal dan datanya tidak akurat,” jelasnya.

EWS manual tersebut tak lagi menjadi andalan BPBD untuk mendeteksi pergerakan tanah dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi saat ini ada perangkat pendeteksi yang lebih canggih, di mana data yang dihasilkan terkoneksi ke markas BPBD.  Pendeteksi bantuan dari BPBD Provinsi Jateng dan menggunakan tenaga matahari.

“Saat ini terpasang di Jenawi, Matesih dan Tawangmangu,” kata Nugroho.

Mengenai nasib EWS lama, Nugroho mengatakan, beberapa alat yang masih berfungsi tetap akan digunakan. Namun pemasangannya akan dipindah ke lokasi yang strategis.

“Untuk EWS yang lebih mutakhir, kami akan mengajukan tiga tambahan ke provinsi untuk dipasang di Jenawi, Ngargoyoso dan Karangpandan. Bertahap, karena harganya mahal. Sekitar Rp 300 jutaan,” imbuhnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge