0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tanaman Pengikat Tanah Menghilang, Tiga Kecamatan Rawan Longsor

dok.timlo.net
Kepala BPBD Sukoharjo, Suprapto (dok.timlo.net)

Sukoharjo — Daerah Sukoharjo bagian selatan di pegunungan Gajah Mungkur masih berpotensi terjadi tanah longsor yang wajib diwaspadai masyarakat. Pasalnya, banyak faktor pendorong terjadinya longsor pada waktu musim penghujan seperti sekarang ini.

“Jadi kalau di sana itu banyak faktor pendorong yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor, bisa dari sudah hilangnya tanaman penguat tanah ataupun curah hujan yang cukup tinggi bisa menjadi pemicu,” kata Kepala BPBD Sukoahrjo, Suprapto, Selasa (26/1).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mengakui peristiwa longsor di Desa Sanggang beberapa hari yang lalu luput dari pantauan. Pasalnya, selama musim penghujan, daerah tebing yang dijadikan lokasi tambang galian C paling sering dilakukan pemantauan.

Selain karena faktor curah hujan, faktor pendorong terjadinya longsor bisa disebabkan dari mulai hilangnya tanaman penguat tanah di wilayah pemukiman penduduk. Sehingga, tanah menjadi lebih mudah bergerak jika terus diguyur air hujan dalam waktu yang lama.

“Makanya kita himbau kepada masyarakat di sana untuk tidak memotong tanaman yang bermanfaat untuk mengikat tanah, bukan hanya pohon, rumput pun ada yang bermanfaat mengikat tanah,” tandasnya.

Di Kabupaten Sukoharjo, wilayah di tiga kecamatan, Tawangsari, Bulu dan Weru paling rawan teradi bencana alam tanah longsor. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dan harus mengetahui tanda-tanda jika akan tejadi longsor.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge