0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Kronologis Kematian Nameera Versi Ayahnya

dok.timlo.net/aditya wijaya
Muhammad Ryan Bramasto (28) menggendong foto sketsa putrinya, Namera Altynia Bramasto, yang meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Muhammad Ryan Bramasto (28) membeberkan kematian putrinya, Nameera Altynia Bramasto (10 bulan), yang sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten.

“Berawal saat Nameera mulai sakit panas pada Rabu 14 Oktober 2015, lalu keesokan harinya kami membawa ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aisyiah PKU Muhammadiyah. Menurut dokter, ada virus dalam tubuh Nameera namun tidak berbahaya,” ujar Ryan saat ditemui di rumahnya di Dukuh Sraten RT 02 RW 04, Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Senin (25/1).

Namun hingga Jumat 16 Oktober, Nameera masih panas. Lalu, paginya dibawa kembali ke RSIA karena ada bintik-bintik merah di pelipis dan kepala bagian belakang. Menurut dokter, itu hanya biang keringat sehingga diminta untuk memotong rambut agar tidak gatal dan diberi tambahan multivitamin serta obat salep.

Minggu 18 Oktober, panas Nameera masih naik turun. Lantas malamnya sekitar pukul 00.00 WIB langsung dibawa ke RSI Klaten dan masuk ke UGD. Setelah diinfus, anaknya dibawa ke bangsal Multazam no 3 (ruang VIP). Senin 19 Oktober, sekitar pukul 08.30 WIB, Dr Nov Sugiyanto (spesialis anak) datang memeriksa. Dari hasil cek darah, kata dia, Nameera kemungkinan terkena gejala Demam Berdarah (DB) dan trombositnya 34 ribu.

Selasa 20 Oktober pukul 08.30 WIB, Dr Nov kembali datang memeriksa tetapi tidak memberikan penjelasan mengenai kondisi anaknya. Sorenya sekitar pukul 17.00 WIB perawat kembali datang ambil sampel darah untuk tiga cek, yakni cek tipes, trombosit, dan demam berdarah.

“Kemudian neneknya bertanya tentang hasil lab darah terakhir. Dijawab perawat, kalau tipesnya negatif, trombosit menjadi 78 ribu, dan hasil cek DB tidak diberitahu. Lantas neneknya bertanya kenapa ada benjolan kecil di atas telinga bagian kanan, dan pelupuk mata kiri agak bengkak, serta perutnya membesar. Dijawab perawatan lagi, kalau itu disebakan turunnya trombosit, dan akan sembuh dengan sendirinya seiring naiknya trombosit, dan juga kalau trombositnya turun cairan itu kemana-mana dan disarankan minum air putih sebanyak-banyaknya,” cerita Ryan.

Sekitar pukul 22.00 WIB, benjolan itu pecah dan mengeluarkan darah yang tidak begitu banyak. Oleh perawatnya hanya dibersihkan darahnya, tanpa diberi obat. Setengah jam kemudian, anaknya mulai tidak minum ASI, agak sesak nafas, dan merintih seperti kesakitan. Diklaim perawat menderita sariawan, karena mulut dan lidahnya berwarna putih. Namun keadaan tak kunjung membaik, pada pukul 23.30 dokter jaga akhirnya datang dan menyatakan Nameera terkena sariawan dan kembung.

“Saat itu dokter yang bertugas adalah Dr Dewi Kartikasari. Kemudian sekitar pukul 00.30 WIB atau Rabu tanggal 21 Oktober 2015, perawat mengatakan kepada saya, tidak jadi memberikan obat melalui infus, akan tetapi menggantinya dengan pemberian obat melalui mulut. Jadilah anak saya yang sesak nafas itu diminumkan obat berupa serbuk 2 sachet dan 1 sachet berupa obat tetes,” jelasnya.

Tapi tidak sampai 5 menit dan perawat masih disana, tiba-tiba kaki Nameera muncul bentol-bentol merah, dan seketika itu lehernya langsung membengkak besar. Lalu dokter (Dr Dewi) menyuruh dibawa ke PICU/NICU, dan putrinya yang berusia 10 bulan itu dalam kondisi masih sadar digendongnya.

“Beberapa menit kemudian, saya dan nenek dipanggil perawat. Katanya kalau anak saya tidak keracunan obat, tetapi ada banyak cairan di tenggorokan.

Melihat itu, saya tidak kuat dan langsung keluar, kemudian saya dipanggil lagi dan diberitahu bahwa anak saya dinyatakan meninggal, Rabu 21 Oktober 2015 sekitar pukul 01.00 WIB,” kenang Ryan.

Setelah jenazah dibawa pulang ke rumah, ia menemukan keadaan tubuh anaknya membengkak. Selain itu, bibir Nameera pun membiru, serta perutnya membesar. Pembengkakan itu juga terus berlangsung ketika anaknya telah meninggal dunia.

“Dalam mediasi tadi, dokter mengungkapkan bahwa kematian anak saya karena penyakit aspirasi atau gangguan pernapasan, yang disebabkan karena terdapat cairan,” jelas Ryan.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge