0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Durian Jumantono Tak Kalah Maknyus

Durian Jumantono (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Cita rasa durian lokal asal Dusun Tugu, Desa Genengan, Kecamatan Jumantono, Karanganyar tak kalah bersaing dengan varian “Si raja buah” itu yang kian beragam. Durian lokal di Dusun Tugu juga memiliki penggemar setia dari kalangan berkantong pas-pasan. Meski hanya promosi secara getok tular terbukti mampu meramaikan jual beli durian yang tumbuh di dusun ini.

“Silakan keliling kampung. Semua pekarangan ditanami durian yang sudah masak di musim kali ini. Tinggal mengetuk pintu rumah pemiliknya, lalu tawar menawar. Bisa dibawa pulang atau dinikmati langsung,” kata Saryoto, Senin (25/1).

Saryoto memiliki 14 pohon durian jenis lokal yang tumbuh di pekarangan rumah dan ladangnya. Ukuran durian jenis lokal memang tak sebesar durian montong atau petruk hasil rekayasa genetika. Jumlah biji dan rasanya juga relatif standar tanpa variasi sebagaimana jenis-jenis yang dikembangkan sekarang ini. Meski demikian, durian lokal tetap memiliki penggemarnya karena harganya relatif terjangkau.

“Kalau durian montong tidak boleh sebutir Rp 35 ribu – Rp 40 ribu. Pastinya lebih mahal. Sedangkan durian lokal dari Dusun Tugu bolehlah segitu. Jika belinya banyak malah dapat bonus,” katanya.

Dusun ini biasanya ramai pembeli saat akhir pekan. Datang bersama rombongan keluarga, mereka rata-rata menghabiskan 10-25 butir. Menariknya, petani durian yang menekuni bisnis semenjak remaja ini memberi garansi bagi pelanggannya.

“Bisa belah lagi duriannya apabila tidak enak. Yang tadi tidak usah dihitung,” katanya.

Saryoto mengatakan, panen durian pada musim kali ini tak begitu menggembirakan. Sejak buah itu mulai masak sekitar pertengahan tahun 2015, satu pohon maksimal menghasilkan 100-150 butir dari biasanya sampai 300-an butir pada setiap kali panen. Kondisi seperti ini berlangsung selama empat tahun terakhir.

“Faktor cuaca mempengaruhi produktivitas buah. Pada saat berbunga terkena angin dan hujan, jadi pembuahan gagal. Di sini semuanya berlangsung alami. Tidak seperti di kebun buah yang dirawat oleh insinyur pertanian,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge