0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ngopi Serius dan Perjuangan Menyejahterakan Petani

timlo.net/setyo pujis
Sasangka Adi, pemilik kedai kopi ”Ngopi Serius” (timlo.net/setyo pujis)

Solo — Meraup keuntungan setinggi-tinginya dan menekan biaya pengeluaran serendah-rendahnya. Itulah salah satu warisan teori ekonomi barat yang kebanyakan dijadikan rujukan para pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya.

Sehingga sangat wajar jika jurang pemisah antara yang mampu dan tidak berdaya menjadi semakin lebar.

Namun sepertinya teori dan prinsip tersebut tidak berlaku sepenuhnya untuk semua pengusaha. Salah satunya adalah Sasangka Adi, pemilik kedai kopi ”Ngopi Serius” yang berlokasi di daerah Badran, belakang rumah sakit Kasih Ibu Solo.

Pria kelahiran Sragen 1985 ini mengaku mengawali bisnis karena kecintaan terhadap kopi, selain juga karena keprihatinanya dengan nasib para petani.

Karena menurutnya setiap biji kopi yang ditanam dengan cucuran keringat oleh petani belum bisa dihargai secara layak di dalam negeri. Sehingga sangat wajar jika hasil panenan mereka selalu diekspor keluar negeri meskipun dengan harga yang terbilang relatif murah.

“Saya menamai usaha ini sebagai sosial entrepreneur. Karena orientasi saya tidak semata-mata kepada untung rugi, melainkan karena ingin turut membantu memecahkan persoalan ekonomi yang dirasakan para petani kopi didalam negeri,” ujar bapak satu anak ini saat berbincang dengan Timlo.net, belum lama ini.

Awalnya ia memang mengaku cukup kesulitan untuk bisa merealisasikan ide bisnis yang akan ditekuninya tersebut. Karena selain kultur masyarakat Solo yang masih awam terhadap kopi, keterbatasan modal juga menjadi salah satu kendala untuk memulai usaha.

Hingga akhirnya atas dorongan dari berbagai teman, keluarga dan juga petani kopi ia beranikan diri untuk mengupayakan segala celah yang ada. Agar dapat mewujudkan cita-citanya membikin kedai kopi.

“Karena waktu itu tidak punya modal, ya dengan terpaksa saya gadaikan rumah milik orang tua untuk mencari pinjaman ke bank,” terangnya.

Hanya berbekal kemampuan dan tekad, Adi yang hanya tamatan SMA ini pun akhirnya mendapatkan secercah harapan dengan mendapatkan pinjaman uang dari bank senilai Rp 70 Juta sebagai modal utama. Dan pada akhirnya pada pertengahan 2014 cita-cita usaha itu pun mampu terwujud.

Memang masih terlalu minim, karena untuk membuat sebuah kedai coffee shop yang ideal menurutnya membutuhkan dana ratusan juta Rupiah. Mengingat segala peralatan pembuat kopi, sewa tempat dan perlengkapan lainya tidak murah.

“Namun alhamdulilah seiring berjalanya waktu dan sedikit demi sedikit sekarang sudah bisa menutupi kekurangan modal. Bahkan sudah bisa untuk mengembangan usaha,” ungkap dia.

Kegelisahanya perlahan mulai terjawab, karena hasil dari kerja keras dan ketekunan menjalankan usaha, kini dia mampu meraup omset puluhan juta Rupiah per bulan. Dari kuntungan itu selain digunakan untuk mengembangkan usaha, Adi juga sumbangkan kepada para petani kopi sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada mereka.

“Karena bagi saya tidak cukup hanya dengan membeli kopi dengan harga yang wajar kepada petani. Mengingat mereka yang selama ini merawat dan meramu kopi sehingga menghasilkan cita rasa yang berkualitas,” terangnya .

Sekarang ini Adi telah memiliki 8 karyawan untuk membantu mengoperasionalkan usaha kedai kopinya. Dan beragam kopi nusantara yang diambil langsung dari para petani terlihat terpampang memadati rak. Mulai dari kopi sidikalang, black Gayo, rawaseneng Temanggung, Bali Buleleng, Lampung, lencoh lereng merapi, Bali Kintamani, Mandailing, java pedati, luak liar Aceh Gayo dan lain-lain.

Baginya kopi tidak hanya sebatas komoditas, melainkan juga perjuangan untuk membantu para petani yang tertindas.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge