0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wahyu dan Heru Jabat Ketua dan Sekretaris Gafatar Karanganyar

(Ilustrasi) (dok.timlo.net/gg)

Karanganyar — Tiga keluarga warga Desa Papahan yang menghilang beberapa bulan terakhir diketahui pernah bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Bahkan dua diantaranya pernah menjadi pengurus inti ormas tersebut.

“Dua kepala keluarganya pernah bergabung dengan Gafatar,” kata Suroso, Kasi Pemerintahn dan Trantib, Desa Papahan, Kamis (21/1).

Ketiga keluarga tersebut masing-masing Heri Murtopo (43) warga RT 09/RW VIII merupakan Sekretaris Dewan Pimpinan Kabupaten (DKP) Gafatar Karanganyar. Selain itu Ketua DKP Gafatar Karanganyar Wahyu Widiatmoko (40) ditengarai juga menghilang bersama tiga anak dan istrinya. Warga RT 03/RW II ini sempat menawarkan rumahnya untuk dijual namun tak laku.

Sedangkan, Joni Catur Prasetyo (41) warga RT 02/RW III yang berprofesi sebagai PNS bagian TU Pascasarjana UNS. Pria ini menghilang bersama putra sulungnya pada November 2015.

“Tak tahu kemana mereka pergi. Tapi mereka punya riwayat bergabung di Gafatar,” kata Suroso kepada wartawan, Kamis (21/1).

Lebih lanjut Suroso mengatakan, sebenarnya pihak keluarga menentang mereka bergabung Gafatar karena perilakunya berubah mencurigakan. Keluarga Joni sempat mempercayainya keluar dari Gafatar namun pada kenyataannya pria tersebut tetap saja meninggalkan rumah tanpa pesan.

“Joni pernah membuat surat pernyataan keluar Gafatar. Karena ia diancam bakal diceraikan istrinya jika nekat di situ,” katanya.

Hasil penelusuran wartawan, masih ada dua orang lagi yang pernah bergabung dengan Gafatar. Yakni Purwanto (40) warga Papahan dan Ari Widodo yang tak lain adik kandung Hery. Purwarto menyatakan diri sudah keluar dari Gafatar. Dia kini bekerja di salah satu pabrik tekstil di Karanganyar. Sedangkan Ari pindah ke Sapen, Mojolaban, Sukoharjo. Bahkan, mereka pernah ditahan selama dua hari di Polresta Solo sekitar 2013 karena terkait Ahmad Musadeq.

Perkembangan penyebaran faham Gafatar di sekitar tempat tinggal ke tiga orang tersebut juga tidak berjalan mulus. Warga tidak tertarik bergabung.

”Warga menyadari karena mereka pernah berurusan dengan polisi tidak mau bergabung,” jelas Suroso.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge