0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Diusir, Ini Curhat Para Eks Pengikut Gafatar

dok.merdeka.com
Kampung eks Gafatar dibakar massa, beberapa waktu lalu (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Organisasi masyarakat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) masih menjadi sorotan lantaran diduga mengajarkan ide menyimpang. Namun, lantaran banyak orang menolak kehadiran mereka, beberapa di antaranya mulai buka suara.

Tera, seorang bekas anggota Gafatar asal Cilacap yang kini mengungsi ke penampungan Bekang Kodam XII Tanjungpura, menyatakan alasannya hijrah ke Mempawah, Kalimantan Barat, buat bercocok tanam.

“Kami datang ke sini hanya mau bercocok tanam saja,” kata Tera (31), di penampungan berlokasi di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, kemarin.

Tera mengatakan, dia dan beberapa temannya baru sebulan berada di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Mempawah, buat mengembangkan pertanian apa saja di daerah itu.

“Istri dan anak saya belum ikut, rencananya setelah siap, baru mereka saya bawa, tetapi keburu terjadi permasalahan sehingga kami dievakuasi,” ujar Tera.

Tera menambahkan, alasan dia bergabung dengan Gafatar karena ingin mengembangkan pertanian.

“Karena sesuai dengan motto Presiden pertama RI, Soekarno, suatu negara kalau mau kuat dan maju, maka sektor pangan atau pertaniannya harus bagus, sehingga tidak tergantung pada negara lainnya,” ujar sarjana pendidikan alumni Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Menurut Tera, alasan mendasar dia dan teman-teman lainnya tetap ikut kelompok eks Gafatar buat mengembangkan program kedaulatan pangan di Indonesia.

“Karena generasi sekarang umumnya tidak mau bertani, tetapi giliran kami mau bercocok tanam kok dipermasalahkan,” sambung Tera.

Selain itu, Tera merasa dengan berkumpul bersama eks anggota Gafatar, maka akan memudahkan pemerintah dan instansi terkait memantau kegiatan mereka.

Sementara itu, Wasito (41), mantan pengikut Gafatar asal Cilacap, mengaku masih trauma dengan kejadian pembakaran kampungnya, Selasa (19/1). Sebab sewaktu mereka akan dievakuasi, saat itu juga barak mereka dibakar massa dan dalam kondisi hujan lebat.

“Selama ini kami bisa hidup rukun dengan warga setempat. Sehingga kami bingung tiba-tiba ada masalah, dan tiba-tiba sudah diberikan batas waktu harus meninggalkan Desa Pasir yang ditempati selama tiga bulan,” kata Wasito.

Menurut Wasito, dia dan rekan-rekannya dulunya memang pernah ikut organisasi Gafatar, tetapi sekarang tidak lagi. “Sehingga kami tidak mengerti tiba-tiba ada masalah seperti ini. Tadinya mau mengembangkan keramba ikan nila, tetapi keburu ada masalah seperti ini,” ujar Wasito.

Wasito enggan pulang ke daerah asal, karena harta bendanya sudah dijual buat modal pindah ke Kalbar.

Koordinator Kelompok eks Gafatar, Joko (48), mengaku bingung mau tinggal di mana dengan adanya desakan warga yang memaksanya tidak lagi tinggal di Desa Sedahan, Kabupaten Kayong Utara. Joko pun diberi waktu paling lama 1 X 24 jam sejak Senin (18/1), untuk segera pergi meninggalkan desa tersebut.

“Kami menyerahkan keputusan kepada pemerintah, karena kami tidak tahu mau pindah ke mana lagi, karena sudah tidak punya apa-apa lagi,” kata Joko di Sukadana.

Menurut Joko, dirinya pindah dari Lampung lantaran ingin mengembangkan pertanian dari lahan yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Modal yang diperolehnya dari menjual lahan dan harta benda miliknya sudah digunakan untuk pindah dan bercocok tanam di Desa Sedahan.

Namun saat ini dirinya bingung mau ke mana dan menggunakan dana dari mana untuk pindah. “Kami ikut apa keputusan pak kades saja,” ujarnya.

Sementara itu, di Kabupaten Mempawah, eks Gafatar juga membentuk kelompok tani yang diberi nama Pasir Sejahtera, tepatnya di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah. Mereka datang sejak Juli 2015 dan membeli sejumlah lahan di desa tersebut.

Dalam surat tertulis yang dikirim atas nama koordinator Kelompok Tani Pasir Sejahtera, Dwi Adiyanto menyatakan, mereka telah melaksanakan berbagai tahapan, seperti perizinan, sosialisasi serta bersilaturahmi dengan warga dan pihak terkait.

Dia mempertanyakan tuntutan agar mereka harus hengkang dari areal tersebut. Seperti cara memobilisasi ratusan orang, kelanjutan hidup mereka kalau harus pindah sementara mereka tanpa pekerjaan, tabungan, rumah dan tanah pertanian untuk digarap.

Dia mengaku saat ini mereka dalam kondisi yang sudah sangat terbatas, dan yang dimiliki hanyalah tanah yang dihuni saat ini, sehingga berat untuk mengosongkan tanah yang sudah digarap tersebut.

Mantan ketua Gafatar Yogyakarta, Yudhistira, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa atas pengusiran pengikut perkumpulan itu. Dia tidak bisa mengelak kalau ada anggapan sumber kemelut perkumpulan itu dimulai saat pengikut pendiri aliran Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Musadeq, berbondong-bondong bergabung.

Yudhistira mengakui, akibat hal itu membikin orang mencap organisasi itu mengajarkan aliran sesat. Meski demikian, dia beralasan bergabung di Gafatar karena ingin membangun gerakan sosial, tanpa melihat latar belakang keyakinan.

“Tentu akar masalahnya bermula dari pengakuan Ahmad Musadeq sebagai nabi. Tapi tahun 2012, Musadeq sudah mencabut perkataan itu dan sudah menjalani hukuman. Gafatar memang banyak yang pernah ikut Musadeq,” kata Yudhistira saat dihubungi merdeka.com.

Yudhistira melanjutkan, banyaknya pengikut Musadeq bergabung dengan Gafatar tidak membikin organisasi itu jadi mengikuti paham Musadeq. Dia menyangkal kalau di dalam Gafatar tidak ada yang menyebarkan ajaran sesat.

“Keyakinan itu urusan masing-masing. Gafatar tidak menyinggung soal itu, hanya aksi sosial, budaya, dan ilmiah,” tambah Yudhistira.

Meski begitu, Yudhistira menyatakan pandangan masyarakat kalau Gafatar menyebarkan ajaran Musadeq tidak bisa disalahkan.

“Prasangka itu tetap ada. Karena itu kita juga tidak bisa apa-apa, padahal kami hanya aksi sosial saja,” ucap Yudhistira.

Yudhistira juga menyayangkan pembakaran perkampungan Gafatar di Mempawah. Menurut dia, hal itu tidak seharusnya terjadi.

“Kalau melihat konstitusi, warga negara bebas mau tinggal di mana saja oleh negara. Jadi kejadian seperti di Mempawah itu sangat saya sesalkan terjadi,” tutup Yudhistira. [ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge