0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

100 Balita di Ngawi Kurang Gizi, Ini Penyebabnya

dok.merdeka.com
Anak-anak gizi buruk (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menyatakan sebanyak 100 Balita di wilayahnya saat ini mengalami kurang gizi sehingga harus mendapat perhatian secara khusus. Data Dinkes Ngawi mencatat, dari 100 Balita kurang gizi tersebut, sebanyak 37 Balita di antaranya menderita gizi buruk dan sisanya kekurangan gizi.

“Dinas telah berupaya maksimal. Namun, terkadang kasus kurang gizi dan bahkan gizi buruk disebabkan karena adanya penyakit ikutan atau penyerta,” kata Kasi Gizi Dinkes Ngawi Ratna Yustisiani di Ngawi, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (16/1).

Seperti kasus gizi buruk yang ditangani oleh Dinkes Ngawi terhadap balita Mukaromatul Kirom di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jogorogo. Balita berusia 4 tahun tersebut hanya memiliki berat badan 8 kilogram.

Penderitaan Balita perempuan tersebut disebabkan karena penyakit penyerta syaraf otak bawaan sejak lahir. Pada usia 4 bulan, balita tersebut telah menjalani operasi di salah satu rumah sakit.

Namun, setelah operasi, pertumbuhannya justru terhambat sehingga mengalami kurang gizi. Bahkan, Kirom dikategorikan mengalami gizi buruk stadium ringan.

Pihak dinas terkait telah melakukan penanganan khusus terhadap kasus Kirom dengan mengikutsertakan yang bersangkutan ke dalam program penanganan gizi buruk Restu Ibu.

“Namun, karena adanya penyakit penyerta, kondisi pertumbuhan balita Mukaromatul Kirom sulit disembuhkan,” kata Ratna.

Rata-rata penyakit penyerta yang ditemukan pada kasus kurang gizi pada anak, kata dia, di antaranya TBC, jantung, saluran pernapasan, dan kelainan darah.

Sebanyak 100 Balita kurang gizi tersebut saat ini sedang mendapat pengawasan ketat dari Dinas Kesehatan Ngawi. Dinas juga berusaha untuk menyembuhkan penyakit penyerta yang menyerang si penderita agar segera sembuh sehingga peningkatan gizi dapat dilakukan.

Secara umum, kurang gizi disebabkan oleh banyak faktor. Namun, mayoritas dari temuan kasus di Ngawi disebabkan oleh tingkat ekonomi dari keluarga Balita. Faktor ekonomi keluarga yang rendah sangat berpengaruh pada asupan gizi yang diberikan pada balita.

Oleh karena itu, pihaknya akan lebih gencar lagi dalam memaksimalkan fungsi posyandu yang sangat berperan dalam memantau perkembangan kesehatan balita.

Pihaknya juga akan menugaskan para petugas kesehatan di Puskesmas dan kader Posyandu untuk turun langsung ke lapangan guna mendata dan memantau kesehatan balita di Ngawi. [hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge