0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Teror Bom di Sarinah, Kepala BIN Diminta Mundur

dok.merdeka.com
Ledakan di pos polisi Sarinah. ©merdeka.com/arie basuki (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai aparat keamanan negara kecolongan soal meledaknya peristiwa teror bom di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1). Pasalnya teror ini terjadi terkesan karena tak ada langkah antisipatif.

“Kita kecolongan. BIN kecolongan, polisi kecolongan, alat negara kecolongan. Kita tahu penanganan eks teroris jelek sekali. Ini di ring satu dekat Istana Negara, kejadian satu jam saja men in black tidak ada, orang lingkaran itu tidak ada. Itu kan Polantas yang tembak-tembakan. Artinya ke mana alat negara yang memprotect ring satu, padahal jaraknya sangat dekat Istana. Bahkan Kopassus baru turun jam 13.00 WIB. Berarti komando kita lemah,” kata Mardigu saat dihubungi merdeka.com, Kamis (14/1).

Menurut Mardigu, jika aparat keamanan sudah jauh hari bertindak waspada, maka tak mungkin kelabakan seperti penanganan bom Sarinah. Sebab pola tidak antisipasif terlihat ketika aparat keamanan butuh waktu panjang untuk menghimpun personel terlebih dahului.

“Kalau ditanya siapa yang lemah ya intelijen. Karena tugas intelijen no surprises. Ini ada surprise berarti kecolongan. Polisi seperti pemadam kebakaran. Tapi preventif itu intel. Berarti kita kebobolan,” ujarnya.

Atas beruntunnya aksi teror, Mardigu mendorong agar Kepala Badan Intelejen Negara, Sutiyoso berani mengambil sikap mengundurkan diri. Sebab menurutnya BIN sudah gagal mencegah aksi terorisme.

“Kayaknya BIN harus ganti dulu. Itu harus tanggung jawab. Kalau saya Kepala BIN, saya dengan jantan akan mundur. Tidak perform. Jadi ada orang yang harus lebih baik. Karena BIN itu benda mati, yang harus menghidupkan kan profesionalnya. Tak perform, tak profesional, ya sudah ganti saja. Ya agak sedikit pahit mungkin, tapi itu sebuah fakta,” tegasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Saud Usman Nasution menampik dugaan aparat keamanan negara kecolongan. Menurutnya, sudah jauh hari diterapkan kewaspadaan.

“Oh itu tidak, intelijen kita tidak kecolongan. Memang mereka mencari peluang, di manapun dia akan melaksanakannya,” kata Saud.

Saud mengakui bahwa pihaknya sudah mengetahui bahwa ISIS memberikan sinyal akan ‘konser’ di Indonesia. Maka dari itu intelejen negara sudah meresponnya dengan memperingatkan warga.

“Kita sudah warning mereka akan melaksanakan konser. Makanya di semua lini kewaspadaan sudah ditingkatkan sehingga tidak ada peluang,” ungkapnya.¬†[tyo]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge