0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kesaksian Andi Besse: Masuk Gafatar Harus Lepas Jilbab

Warga gerebek markas ormas Gafatar. (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Makassar resmi dideklarasikan Mei 2012 lalu di gedung Celebes Centre Convention (CCC), Jl Tanjung Bunga, Makassar. Ribuan manusia memadati gedung yang akrab juga disebut gedung triple C itu karena yang hadir bukan hanya orang-orang dari Makassar atau Sulsel pada umumnya, melainkan juga dari seluruh Indonesia.

Selain mendengarkan pidato-pidato, hadirin masing-masing dibekali alat bambu layaknya alat musik angklung. Berkali-kali mereka memukul-mukul bambu itu dan membuat irama sesuai komando yang tidak diketahui maksudnya apa.

Demikian kesaksian Andi Besse, (25), seorang guru SD, warga Palopo Selatan, Kabupaten Luwu, Sulsel yang dikonfirmasi via ponselnya Selasa malam, (12/1) pukul 21.00 Wita.

Andi Besse sempat aktif selama seminggu dalam organisasi tersebut, dan kemudian diundang datang ke Makassar untuk menghadiri deklarasi peresmian organisasi yang belakangan dinyatakan terlarang itu.

“Saya masuk Gafatar diajak adik saya Andi Muliani yang sekarang menghilang bersama Burhan Faisal suaminya dan anaknya yang masih balita,” tutur Andi Besse seraya menambahkan, tertarik masuk organisasi itu karena aksi sosialnya cukup menyentuh seperti donor darah yang pernah digelar di daerahnya.

Andi Besse memilih tidak aktif lagi di organisasi itu karena merasakan kejanggalan saat hadiri deklarasi di Makassar. Kata Andi Besse, di antara ribuan orang yang hadir, hanya mereka berdua yang berhijab. Saat baru saja hendak melangkahkan kaki masuk ke gedung triple C itu, serta merta mereka dihampiri oleh pengurus Gafatar. Keduanya diminta masuk setelah membuka jilbab.

Andi Besse kaget dengan aturan itu sehingga dia bertanya, tapi tetap diharuskan buka jilbab. Spontan dia menarik tangan Andi Muliani untuk meninggalkan tempat itu karena dirasanya aneh. Dia mulai berpikir ini organisasi apa, kenapa ada aturan membuka hijab sementara pengurus itu tahu keduanya seorang muslimah.

“Tapi saat saya tarik tangan adik saya keluar, pengurus Gafatar itu menahan dan membujuk agar tidak pulang. Lalu membolehkan kami masuk ke gedung itu dengan mengenakan jilbab. Setiba dalam ruangan, ketua umum Gafatar sementara pidato. Saya tidak menyimak apa isi pidatonya karena saya lebih fokus memperhatikan apa yang terjadi di ruangan ini dengan mengambil gambar pakai ponsel. Di antaranya ambil gambar orang-orang membunyikan alat bambu yang mirip alat musik angklung itu yang dibagikan panitia,” tuturnya.

Saat kembali ke kampung di Palopo Selatan, Andi Besse dihubungi lewat Ponsel oleh Ustaz Rahman dari Forum Pembela Islam (FPI) di Makassar. Dia ditanya apakah bergabung dengan Gafatar atau tidak. Dia pun menjawab, pernah bergabung tapi hanya seminggu tapi belum sempat terdaftar sebagai anggota.

“Ustaz Rahman ini menyampaikan ke saya untuk tidak bergabung dengan Gafatar karena organisasi itu beraliran sesat. Saya diminta untuk menyadarkan Andi Muliani adik saya. Setelah ditelepon sama Ustaz itu, saya lalu sampaikan ke adik saya tapi jawabnya bahwa ustaz itu hanya memprovokasi,” kata Andi Besse.

Dari situlah, imbuhnya, dia terus mewaspadai kondisi adiknya. Lalu tahun 2013 kemudian adiknya itu menikah dengan Burhan Faisal yang ternyata sama-sama penganut aliran organisasi Gafatar itu.

Suatu hari Andi Muliani kemudian pamit ke keluarga hendak Kendari, Sulawesi Tenggara, lalu ke Kalimantan Timur dengan alasan suami pindah tugas. Kontak terakhir Mei 2015.

“Kontak hilang sejak Mei 2015 itu. Keluarga sudah mencari dengan berbagai cara misalnya lewat media sosial, hubungi keluarga suaminya di Kabupaten Sinjai. Serta mendatangi kantor suaminya yang pernah mengaku kerja di salah satu perusahaan pembiayaan. Namun nyatanya setelah dicek di perusahaan yang dimaksud, nama Burhan Faisal tidak pernah tercatat sebagai karyawan,” ujarnya.

“Lalu saat ini setelah media banyak memberitakan tentang Gafatar dan orang hilang ini, kami pun berinisiatif melaporkan ke polisi dan sudah kami masukkan di Polres Luwu dengan harapan adiknya bisa juga ditemukan sebagaimana dokter Rica dari Yogyakarta itu,” tutur Andi Besse penuh harap. [ren]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge