0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cegah Pekerja Anak Tembakau, Siswa SD Ikuti After School Program

Pameran Kreativitas Siswa di SDN Mlese, Ceper, Klaten dalam rangka mengurangi resiko pekerja anak di sektor tembakau (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten —¬†Ratusan siswa dari 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Ceper mengikuti Pameran Kreativitas Siswa di halaman SDN Mlese, Ceper. Pameran itu merupakan bagian dari After School Program (ASP) yang digagas Social Transformation and Public Awareness (STAPA) Center dan perusahaan rokok nasional di kawasan sentra tembakau Klaten.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberi tempat bagi siswa agar bisa menampilkan bakat, kemampuan, dan ketrampilan mereka yang telah diasah selama mengikuti kegiatan ASP,” kata Manager Contributions dan CSR PT HM Sampoerna Tbk, Taruli Aritonang, Selasa (12/1).

Dijelaskan, ASP menyasar anak-anak dari keluarga petani tembakau yang berada di bangku SD. Bentuknya berupa kegiatan setelah jam sekolah atau ekstrakulikuler bagi siswa kelas III-VI SD sejak September hingga Desember 2015. Menjangkau 11 SDN di Kabupaten Klaten, Rembang (Jawa Tengah), dan Lumajang (Jawa Timur), dengan total 825 anak.

Kegiatan tersebut juga selaras dengan semangat Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) No 59/2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA). Melalui Keppres itu, pemerintah mencanangkan Indonesia bebas pekerja anak pada tahun 2022. Namun demikian, pihaknya belum menemukan pekerja anak di sentra tembakau Klaten.

“Kami secara langsung belum menyaksikan, tapi apakah orangtua melarang atau tidak kami tidak tahu. Biasanya anak sering terlibat saat panen karena maksimum 40 hari harus dipetik. Maka kami selenggarakan panen kegiatan setelah jam sekolah atau libur,” jelas Uli.

Menurut dia, anak membantu orangtua boleh saja, tapi tidak yang berisiko. Pasalnya, saat proses pemupukan, anak-anak rentan terpapar zat kimia berbahaya. Ketika panen, juga rentan mengalami terkena green tobacco sickness (GTS) atau penyakit akibat penyerapan nikotin melalui kulit saat proses panen tembakau basah.

‘Kami berharap program ini dapat mencapai tujuan utamanya, yakni tidak adanya lagi pekerja anak di ladang pertanian tembakau, tidak hanya saat musim panan, tapi juga setiap saat,” imbuhnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge