0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dinilai Ilegal, Tambak Bandeng Dilempari Batu

dok.merdeka.com
Ilustrasi tawuran (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Rudi, pengusaha tambak ikan Nener dan Bandeng, asal Surabaya yang membuka lahan di desa Sangalangit, Gerokgak Buleleng di Bali, hanya bisa pasrah. Itu setelah puluhan warga setempat datang sambil membawa batu merusak tempat usahanya, Minggu (10/1) siang.

Persoalan awalnya dipicu kekesalan Made Wenten yang menganggap Rudi menempati lahannya secara ilegal. Dengan mengajak sekitar 50 orang, dia mendatangi tambak milik Rudi dan merusaknya. Tidak hanya itu, ulah Wenten dan sejumlah orang suruhannya ini menutup pintu masuk menuju tambak Rudi dengan batu.

Dari Mediasi di Polsek Gerokgak, Wenten mengaku sudah berulang kali meminta kepada Rudi untuk mengosongkan lahan miliknya namun tidak diindahkan.

.”Pak Rudi sewa 2 tahun senilai Rp 75 juta, sudah habis masa kontrak. Maka semua aset dalam bentuk bangunan jadi milik pemilik lahan, tetapi Pak Rudi tidak mau pergi dan menolak perjanjian tersebut,” ungkap Wenten di Polsek Gerokgak, Buleleng, Minggu (10/1).

Diakui Wenten, dalam perjanjian tersebut memang tidak ditulis dalam selembar kertas.

“Kami hanya melihat sebuah hubungan kedekatan saja, makanya kesepakatan itu tidak tertulis dalam surat perjanjian. Dia (Rudi) juga membangun usaha di lahan kami tanpa ijin,” ujarnya.

Wenten memberi batas waktu hingga Selasa (12/1) lusa, untuk Rudi mengosongkan lokasi. Jika tidak, dia mengancam akan bertindak sendiri mengosongkan tempat itu.

“Semua harus kosong termasuk Induk Bandeng yang ada di bak tambak juga sudah harus kosong,” ancamnya.

Akibat peristiwa ini, sejumlah kaca pada bangunan di tempat usaha tambak ini pecah akibat lemparan batu. Bahkan akses jalan masuk menuju tambak juga tertutup.

Sementara itu, Rudi bersama keluarga langsung meminta perlindungan ke Polsek Gerokgak. Didampingi kuasa hukumnya, Ketut Sringge, Rudi mengaku terintimidasi oleh situasi tersebut.

“Yang jelas soal pengerusakan kami akan tempuh proses hukum. Sedang akibat penyerbuan oleh massa itu kami meminta perlindungan ke Polsek Gerokgak,” ujar Sringge.

Rudi menuding persoalan ini lantaran ada pihak kedua yang merupakan pesaing bisnis di area itu telah memprovokatori pemilik tanah. Melalui pemilik tanah, pesaingnya berusaha mengusir dia agar tidak mengembangkan usaha nener dan bandeng di Sangalangit, Buleleng.

“Saya serahkan kepada kuasa hukum saya untuk menindaklanjuti,” ujar Rudi.

Tidak hanya itu, dia juga mengaku sempat di intimidasi untuk meninggalkan tempat melalui oknum anggota Polsek Gerokgak, namun Rudi mengaku menolak.

“Saya harus membayar selama dua tahun sebesar Rp 600 Juta ini kan tidak beres,” tandasnya.

[ang]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge