0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Astri Kusumawardani, Ingin Tetap Eksis di Dunia Tari

Astri Kusumawardani (foto: David)

Timlo.net – Menari hingga tua. Barangkali itulah keinginan dan cita-cita Astri Kusumawardani, salah satu penari sekaligus koreografer di Kota Solo. Disaat kebanyakan penari wanita “pensiun” menari ketika berkeluarga, tidak demikian dengan Astri. Sambil mengurus suami dan anak, Astri terus berkarya hingga kini.

Setidaknya sudah ada lima judul karya tari yang diciptakan Astri. Diantarnya berjudul Bedayan Kalinyamat serta Penari & Bayang-Bayang. Selain itu, Astri juga terlibat dalam pembuatan karya tari dengan koreografer dan penari ternama seperti Sardono W. Kusumo.

Tahun depan, rencananya Astri kembali menggelar tari bersama Sardono di Singapura. Pergelaran di Singapura bertajuk Singapore Art Festival bakal menjadi event pertamanya tampil di luar negeri.

“Pengennya saya tetap berkarya terus. Saya punya teman-teman di sekitar saya yang sudah berkeluarga, dan punya anak. Umumnya ketika sudah berkeluarga, punya anak sudah selesai (menari). Walaupun anaknya 3 atau 4, saya pengennya mereka bisa tetap eksis (menari),” kata Astri, saat berbincang dengan Timlomagz, akhir bulan lalu di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres.

Diakui Astri, ketika sudah berkeluarga, tidak mudah bagi perempuan untuk terus menari. Sejumlah kendala harus dihadapi seperti mengatur waktu dan tenaga.

“Saya ingin mengajak teman-teman di sekitar saya untuk tetap eksis. Karena memang sulit banget ngaturnya. Tidak hanya waktu, tetapi juga tenaga,” ujar istri Eko Supriyanto ini.

Perkenalan Astri dengan seni tari dimulai saat ia bersekolah di SMKI Solo. Setelah lulus dari SMP di Wonosobo, oleh pamannya, Astri di sekolahkan di SMKI. Tamat dari SMKI, perempuan kelahiran Wonosobo, 28 September 1982 ini kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang tari ke Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Selesai S1, Astri kemudian melanjutkan S2 di kampus yang sama.

“Ketika kuliah S2 itu, saya ambil penciptaan tari. Di situ, saya kayak menemukan jati diri. Saya menemukan kenyaman di sini (dunia tari). Saya merasa nyaman dan merasa harus di jalur tari ya setelah S2,” beber dia.

Meski tari ciptaanya bergaya kontemporer, tari-tari yan dibawakan Asri berpijak pada tari tradisi. Hal itu tidak lepas dari perkenalan awalnya dengan tari tradisi. Tari tradisi juga memiliki filosofi jawa yang bernlai luhur.

“Basic saya memang tradisi karena saya pernah belajar tradisi. Jadi, meskipun keluarnya kontempor, secara alamiah yang keluar tradisinya. Meskipun hanya spiritnya saja. Dan saya nggak mau menghilangkan spirit tradisi ini,” ungkapnya.

Ibu dua anak ini mengakui, pilihan mempertahankan basic tradisi tidak mudah. Pasalnya, selera masyarakat lebih cenderung pada tari modern dengan mengambil budaya luar negeri. Tidak jarang, keinginan mempertahankan tradisi ini berbenturan dengan selera pasar.

“Memang sekarang itu masyarakat umum lebih menyukai entertain, yang menghibur, glamor. Kalau seperti saya yang sekolah di bidang tari, mau tidak mau kita harus melestarikan tradisi. Memang di kalangan kita yang berpegang di tradisi agak sulit menembus ke situ (entertain). Butuh proses panjang,” tandas Astri.

 

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge