0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Proporsi Sekolah Kejuruan di Solo Belum Berimbang

dok.timlo.net/tyo eka
Dr Munawir Yusuf (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Proporsi sekolah kejuruan di Kota Solo belum berimbang, dan saat ini jumlah SMA masih banyak.

“Tetapi Solo lebih bagus dibanding kota lain,” ungkap pakar pendidikan Dr Munawir Yusuf kepada Timlo.net, di Kampus UNS, Solo, Selasa (5/1).

Munawir mengatakan, Solo sebagai Kota Vokasi memiliki teknopark, yang itu tidak dimiliki kota-kota lain. Namun pendidikan vokasi sebetulnya tidak harus berbunyi kota vokasi. Tetapi melekat dalam sebuah kurikulum yang memungkinkan siswanya mendapatkan bekal cukup ketika mereka menyelesaikan jenjang tertentu tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Mereka untuk hidup dan bekerja dengan ketrampilannya, itu yang didorong

“Jangan semua orang didorong untuk mengembangkan potensinya kearah akademik tetapi sebagian harus didorong kearah ketrampilan dan siap kerja,” jelasnya.

Munawir yang juga Wakil Dekan 1 FKIP UNS menjelaskan, Solo termasuk kota yang sebenarnya sudah kondusif untuk pendidikan vokasi. Apalagi daya dukung Solo sangat banyak. Disamping peran perguruan tinggi yang cukup banyak, teknopark, juga SMK-nya banyak yang maju.

Persoalannya, kata Munawir, Solo sebenarnya kota yang cenderung lebih ke akademik. Sehingga agak tidak mudah mengubah mindset Solo untuk menuju Kota Vokasi. Meskipun sudah dimulai dan banyak dilakukan. Karena Solo kota pendidikan.

“Yang mereka datang ke Solo untuk bersekolah yang mindsetnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” ungkapnya.

Tetapi oleh Pemerintah kota Solo telah didesign menjadi kota yang mampu kearah vokasi. Contohnya, lahir mobil Esemka yang mana suatu simbol secara nasional bahwa bisa diarahkan sebagai kota vokasi. “Meskipun secara riil, masih banyak yang harus dibenahi,” ujarnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge