0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Minimnya Pengetahuan, Penyebab Kematian Korban DBD

Dok.Timlo.net/ Rori
Pengasapan nyamuk. (Dok.Timlo.net/ Rori)

Wonogiri — Awal 2016, demam berdarah dengue (DBD) di Wonogiri memakan korban jiwa. Satu warga Kecamatan Baturetno meregang nyawa setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

“Korbannya Defa (7) warga Baturetno, dia meninggal pada Sabtu (2/1) lalu, dia dirawat di rumah sakit beberapa hari tapi jiwanya tidak tertolong,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Kabid P2PL) DKK Wonogiri, Suprio Heryanto, Senin (4/1).

Menurutnya, virus demam berdarah semakin kuat bisa menyesuaikan dengan keadaan. Buktinya, hari Jumat dia masuk ke Puskesmas, kemudian sorenya dirujuk di RS Astrini, lalu malam harinya dibawa ke RSUD, akhirnya pagi tidak tertolong.

“Korban Defa tinggal bersama kakek dan neneknya, sementara orang tuanya merantau di Jakarta. Minimnya pengetahuan tentang DB diduga menjadi penyebab keterlambatan Defa ditangani,” katanya.

Dikatakan, pada 20 Desember 2015 di lokasi tempat tinggal Defa juga ada kasus DB namun tidak meninggal dunia, hanya dirawat di rumah sakit. Kemudian, pada Senin (28/12) pihak Dinkes melakukan foging di sekitar tempat tinggal Defa. Bahkan, ketika Defa terserang DB masih dalam pekan-pekan foging.

“Dari sampling 10 rumah, ada 6 rumah yang positif jentik DB. Bahkan di SMP, lingkungan sekolah dan kamar mandinya banyak jentik-jentiknya,” terangnya.

Ditambahkan, virus demam berdarah saat ini telah mengalami virulensi. Yakni, virus semakin kuat dan mampu beradaptasi dengan keadaan sekitar. Biasanya masa inkubasi 5 sampai 7 hari. Namun, virus telah mengalami virulensi, dia semakin kuat dan bisa beradaptasi.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge