0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tahun 2015, Jokowi Lebih Banyak Diam Tanggapi Isu

timlo.net/eko prasetyo
Pakar Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Sri Hastjarjo (timlo.net/eko prasetyo)

Solo – Selama tahun 2015, Presiden Jokowi lebih banyak diam dalam menanggapi isu-isu yang muncul di pemberitaan media massa atau masyarakat. Kalaupun menanggapi hanya sebatas isu penting saja.

“Top manajemen Pak Jokowi memang mengambil sikap begitu biar orang wait and see. Mungkin juga diam-diam dia memang melakukan sesuatu. Sehingga diantara masyarakat sempat gregeten melihat itu,” ungkap Pakar Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Sri Hastjarjo, S.Sos, PhD kepada Timlo.net ketika merefleksi komunikasi politik Jokowi tahun 2015, di ruang Humas UNS, Solo, Senin (4/1).

Hastjarjo mengatakan, tindakan Jokowi itu membuat sementara orang atau publik bertanya-tanya kenapa tidak ada reaksi, sehingga membuat kredibilitas pemerintah jadi menurun di mata publik.

“Saya pikir kebijakan yang bersangkutan. Model beliau kan begitu,” ujarnya.

Agaknya, kata Pakar Komunikasi itu, style ketika jadi Walikota Solo dibawa ke Jakarta. Peran humas dipegang sendiri, sehingga jurubicara dan sebagainya tidak begitu berfungsi. Bahkan kadang malahan memakai staf lain untuk berbicara.

“Kalau memakai staf lain, saya nilai supaya tidak langsung berbicara terkait isu yang berkembang,” jelasnya.

Kedepan tahun 2016, kata Hastjarjo, komunikasi agar lebih efektif, seyogyanya bisa lebih cepat merespon isu yang berkembang, supaya tidak terkesan didiamkan terlalu lama. Adanya statemen awal yang lebih cepat, agar minimal memberi kesan pada masyarakat, bahwa dia member perhatian, bukannya tidak tahu dan tidak peduli.

“Sebab masyarakat sebetulnya tahu adanya permasalahan yang rumit butuh waktu,” jelasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge