0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Tukang Ojek Onthel yang Makin Terpinggirkan

Ojek sepeda di Tanjung Priok (merdeka.com)

Timlo.net – Ojek sepeda onthel nampaknya semakin diabaikan masyarakat. Lalu bagaimana nasib para pengayuh sepeda tua ini?

Sambil termenung di pinggir Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Wastaf (40) tukang ojek onthel ini mengungkapkan pusingnya mencari uang dari ojek onthel yang dari tahun ke tahun semakin menurun.

“Saya sudah bekerja sejak tahun 1992. Kurang lebih 15 tahun lah sebagai pengayuh ojek onthel. Makin ke sini penghasilan makin bikin ngelus dada melulu,” kata Wastaf, Sabtu (2/1).

Wastaf menjelaskan, semenjak tahun 2000-an, penghasilannya tak pernah sampai Rp 50.000 perhari. Padahal dulu, dia bisa mengantongi lebih dari Rp 70.000 perharinya.

“Dulu mah banyak yang ngojek, apalagi anak sekolah kalau berangkat pada naik ojek onthel. Sekarang paling sehari cuma 3-4 penumpang. Tiap penumpang bayarannya dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000. Mereka lebih memilih menggunakan ojek sepeda motor pangkalan sama ojek online,” ungkapnya dengan sendu.

Dari penghasilannya yang tak seberapa itu, Pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini harus bisa memenuhi kebutuhan hidup untuk makan sehari-hari serta biaya tempat tinggal kos seharga Rp 100.000 tiap bulannya. Ini yang mengurungkan niat Wastaf untuk mempunyai istri apalagi anak.

“Sampai saat ini saya belum punya istri apalagi anak. Jadi ya mau ngapa-ngapain serba sendiri. Saya udahlah engga usah nikah, kasihan nanti istri sama anak saya mau makan apa. Mending saya hidup sendiri. Takut enggak bisa kasih nafkah,” paparnya.

Hal miris pun diungkapkan oleh Udin (50) yang juga berprofesi sebagai ojek onthel. Udin yang sudah hampir 20 tahun lebih mengayuh sepeda onthel warna hitam ini sering kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya.

“Kalau saya sudah nikah. Istri dan dua anak saya di kampung. Penghasilan ojek onthel cuma bisa makan doang, makanya kadang saya mohon-mohon jadi kuli bangunan ke temen sekitar,” ungkapnya.

“Saya punya istri di kampung, dia kerja sebagai nelayan di sana. Saya juga punya dua anak lelaki, yang satu masih kelas 5 SD, yang satu kelas 2 SMK. Meski istri kerja, saya engga bisa lepas tanggung jawab. Saya harus kirim uang ke kampung. Makanya di sini kalau pelanggan sepi, saya cari kerja apapun asal halal. Itu demi keluarga,” papar Udin.

Tahun baru, tambah pria lulusan SMP ini, penumpang semakin sepi.

“Hari ini aja saya baru bawa satu penumpang. Itu juga dari depan gang ke rumahnya. Cuma Rp 5.000. Sepi banget tahun baru. Makin pusing saya,” tutupnya.

Wastaf dan Udin mulai mencari penumpang sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Mereka biasanya mengantar penumpang di sekitar Jalan Swasembada, Kebun Bawang, Plumpang Raya, hingga Terminal Tanjung Priok.

Meski banyak persaingan dengan alat transportasi lain, mereka yakin tiap-tiap orang memiliki rezeki masing-masing.

[hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge