0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jokowi Ingatkan Masyarakat Untuk Kesiapan Sambut MEA

Presiden Joko Widodo, (timlo.net/nanin)

Boyolali — Lima hari lagi, masyarakat Indonesia bakal menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau pasar bebas. Presiden Joko Widodo, saat menghadiri silaturahmi dengan kepala desa dan perangkat desa di Asrama Haji Donohudan, Sabtu (27/12), mengingatkan kesiapan perangkat desa dalam menghadapi MEA.

“Kita tidak tahu persaingannya seberat apa, nantinya akan ada 11 negara bersaing dalam MEA,” kata Presiden Jokowi.

Sejauh ini, menjelang dilaksanakanya MEA, menurut Jokowi, masyarakat Indonesia masih belum menyadari ketatnya persaingan dalam sistem perdagangan bebas. Padahal dalam integrasi ekonomi ASEAN tersebut, batas-batas negara sudah tidak ada. Tidak hanya masyarakat Indonesia, sejumlah presiden dan perdana menteri dari negara ASEAN juga mengaku khawatir jika negara mereka dibanjiri produk-produk dan tenaga Indonesia.

“Tapi anehnya, masyarakat dan kalangan pengusaha Indoensia juga takut dibukanya MEA, kenapa kita harus takut,” sambung Jokowi.

Menurut Jokowi, masyarakat Indonesia tidak perlu takut menghadapi MEA. Masyarakat hanya perlu mempersiapkan diri dan memperbaiki apa yang kurang. Indonesia sendiri tidak bisa mundur dari keikutsertaan MEA karena sudah terikat kesepakatan tahun lalu.

“Ini baru MEA, dua tiga tahun lagi akan ada Trans Pasific Partnership (TPP), digabung dengan negara-negara Amerika dan teman-temannya,” ujar Jokowi.

Jika Indonesia tidak bergabung dengan TPP, maka produk-produk dari Indonesia yang dijual ke negara-negara peserta TPP akan dikenai pajak tinggi berkisar 15 – 20 persen. Kondisi ini justru akan merugikan Indonesia. Namun, Indonesia harus bergabung dengan integritas ekonomi dunia.

“Kita selama ini menjadi negara terbuka, tidak mungkin kita menjadi negara tertutup, ini menjadi tantangan kita sekaligus peluang,” imbuhnya.

Menyikapi ketatnya persiangan antar negara, informasi ini harus sampai ke desa. Pasalnya, Desa selama ini menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing dalam perdagangan bebas. Terutama bagi kepala desa dan perangkat desa, dimana nantinya mereka yang harus menyampaikan ke masyarakat.

“Misal petani, rubah pola lama, ganti dengan pola baru,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge