0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penambangan Pasir Liar Di Wonogiri Masih Marak

timlo.net/tarmuji
Air sungai Wiroko saat pasang, namun truk pengangkut pasir tetap nekat (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri – Meski dilarang, namun aksi penambangan pasir liar di hulu DAS Bengawan Solo kian marak. Seperti halnya penambangan pasir liar di sungai Wiroko Kecamatan Tirtomoyo. Para penambang pasir liar ini beralasan tidak memiliki ketrampilan selain mencari pasir.

“Kalau berhenti mencari pasir, anak istri saya mau saya kasih makan apa mas,” ujar warga Cangkring Kecamatan Tirtomoyo, Wasis, Jumat (25/12).

Dikatakan, selain tidak memiliki ketrampilan lain, kebanyakan para penambang pasir ini tidak memiliki sawah garapan. Pemerintah setempat pun pernah memperingatkan para penambang pasir liar ini, melalui sosialisasi, namun imbauan itu tidak dihiraukan. Pasalnya, kuatnya desakan dari faktor ekonomi.

“Sebenarnya kita tahu kalau menambang pasir di sungai Wiroko ini dilarang, tapi bagaimana lagi,” katanya.

Melihat hasilnya, kata Wasis, memang sangat menggiurkan, betapa tidak, dalam sehari, dirinya mampu mendapatkan hasil Rp 100 Ribu hingga Rp 200 Ribu per ritnya. Selain pasir mereka juga mencari batu yang harganya hampir seimbang dengan harga pasir.

Sementara itu, Sungai Wiroko sendiri merupakan salah satu penyumbang sedimentasi terbesar khususnya di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Kerusakan alam akibat penambangan pasir liar ini sudah nampak jelas terlihat. Banyak sawah-sawah yang berada di kanan dan kiri sungai milik warga sekitar yang mulai terkikis perlahan-lahan.

Tak hanya, Sungai Wiroko, penambangan pasir liar juga marak dihulu DAS Bengawan Solo lainnya, seperti di DAS Keduang, DAS Pakem Giriwoyo. Kedua aliaran sungai ini juga merupakan penyumbang sedimentasi yang masuk di WGM.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge