0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Digugat Balik, Radja Mengadu ke DPR

Radja (kapanlagi.com)

Timlo.net – Grup band Radja akan mengadukan kasus pelaporan balik atas diri mereka ke DPR. Radja menilai selama ini mereka yang dirugikan, tapi justru digugat balik.

Kasus ini bermula pada tahun 2014 silam, grup band Radja melaporkan 5 karaoke atas tindakan pelanggaran hak cipta. Berkas laporan Radja disebutkan telah mencapai tahap P21, dan siap untuk tahap selanjutnya. Namun justru pihak Radja yang dituduh melakukan pemerasan.

“Dugaan kriminalisasi atas klien kami (Ian Kasela dan rekan Radja lainnya). Tadi kami berniat sambangi DPR tapi tidak jadi. Karena anggota masih banyak reses, minggu depan kita ke sana (DPR Komisi III dan X) biar bisa diterima oleh ketua komisi masing-masing,” ucap kuasa hukum Radja, Ramdan Alamsyah, Rabu (23/12).

Pengacara tersebut menjelaskan bagaimana kronologi kasus ini terjadi. Saat ini dari laporan Radja sudah ditetapkan beberapa tersangka. Salah satu dari tersangka tersebut merupakan pria asal Korea.

“Ian dan Moldy melaporkan 5 perusahan karaoke dari seluruh yang dilaporkan sudah dinyatakan P21 oleh kejaksaan agung RI. Berkas ini sudah rampung dari pihak Kepolisian versi surat yang kami terima. Di sini ada dua surat atas nama TSK (tersangka-red) Santoso Setiadi dan Kim Sung Ku, masih ada 3 lagi. Di sini udah jelas 4 September 15 atas nama Kim Sung Ku sudah jelas berkas sudah lengkap. Surat ini ditujukan dari Kejaksaan kepada Mabes Polri Kabareskrim. Yang nama Santoso dari bulan Februari dinyatakan lengkap,” ungkapnya.

Walau berkas tersebut sudah lengkap, namun yang menjadi pertanyaan pihak Radja karena kasus ini tidak segera diproses ke tahap selanjutnya. Karenanya grup band tersebut berniat untuk membawa kasus ini ke DPR.

“Pertanyaannya, kenapa sampai saat ini perkara ini tidak disidangkan tahap duanya kapan? Ada apa antara Mabes Polri dengan pihak Kejaksaan kok seolah-olah buntu. Oleh karena itu kita minta perlindungan hukum ke Komisi 3,” tuturnya.

Dalam kasus ini pihak Radja lantas dilaporkan memeras sebesar Rp 2,5 miliar. Padahal menurut mereka justru pihak tersangka yang menawarkan sejumlah uang, dan kini lantas melaporkan.

“Kemudia Ian dilaporkan balik dengan tuduhan pemerasan sebesar Rp 2,5 miliar hal itu dikatakan oleh kuasa hukum Santoso secara lisan. Ia seolah mengancam akan P21 memang faktanya sudah P21. Artinya apa yang dituduhkan tidak benar. Pihak sana menawarkan uang Rp 150 juta namun Ian menolak. Yang menawarkan perdamaian dan uang itu pihak Santoso, kenapa sekarang berbalik?” tandasnya.

(kpl/pur/sjw)

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge