0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Anggraeni Raih Doktor Ilmu Hukum ke 25 UNS

Anggraeni Endah Kusumaningrum ujian doktor di UNS (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Anggraeni Endah Kusumaningrum berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum ke 25 Universitas Sebelas Maret (UNS), dan doktor ke 171 yang diluluskan UNS. Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Semarang itu berhasil mempertahankan disertasinya di depan Dewan Penguji yang dipimpin Prof Dr Furqon Hidayatullah, di ruang Sidang Rektorat UNS, Solo, Rabu (23/12).

Anggraeni mempertahankan disertasi berjudul Penguatan Model Transaksi Terapeutik Berdasarkan Prinsip Kemitraan yang Berkeadilan Sebagai Upaya Perlindungan Pasien.

Ia mengemukakan, berdasarkan hasil penelitiannya, transaksi terapeutik yang terjadi saat ini belum dapat memberikan perlindungan dan keadilan bagi pasien. “Hal ini disebabkan oleh karena posisi dominan dokter,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Anggraeni, transaksi terapeutik perlu diatur supaya transaksi itu dapat menjamin dan keadilan. Transaksi terapeutik yang adil harus dibangun dengan beberapa elemen inti, seperti kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan.

Secara lebih rinci transaksi yang adil harus berisi mengenai adanya, kepentingan bersama, kepercayaan, saling menguntungkan, saling pengertian dan saling perhatian. Hal itu untuk mengukur tujuan dan kepastian yang hendak dicapai oleh semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan.

Dalam disertasinya, Anggraeni merekomendasikan kepada pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, perlu membuat program yang mendidik pasien agar menjadi pasien yang cerdas, sehingga mampu menentukan apa yang terbaik bagi tubuhnya sendiri.

Artinya, kata Anggraeni, mengembangkan budaya untuk menjadi pasien yang cerdas, adalah mengembangkan cara berpikir pasien yang tidak menuruti dan menyerahkan masalah kesehatanya seratus persen kepada dokter, tetapi pasien yang mengerti dan memahami cara menjelaskan keadaan yang dirasakan tubuhnya yang sakit serta membantu dokter dalam memutuskan dan menjalankan keputusan terhadap diagnose yang dibuat dokter.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge