0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ungeling Gamelan Sekaten Tandai Rangakaian Muludan

Gamelan Guntur Madu ditabuh di halaman Masjid Agung Solo. (timlo.net/heru murdani)

Solo – Suara gamelan sekaten Kyai Guntur madu dan Guntur Sari menggema di halaman Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta. Di bangsal sebelah kanan dan kiri, puluhan pengrawit dengan khusyuk memainkan alat gamelan berusia ratusan tahun tersebut. Gending pertama yang diperdengarkan adalah gending Rambo, yang berasal dari kata Rabbuna (Arab-Red) yang berarti Tuhan Kita.

“Acara ini bernama ungeling gamelan sekaten yang menandai rangkaian perayaan Maulid Nabi atau biasa disebut orang Jawa dengan istilah Muludan,” ungkap Wakil Pengageng Sasana Wilapa, Kanjeng Winarno Kusumo, Kamis (17/12).

Upacara adat ini diawali dengan datangnya utusan dari keraton yaitu Kanjeng Raden Riau Aryo Panji Sumowicitro. Kedatangan utusan ini sebagai wakil dari sinuwun untuk memerintahkan kepada pengrawit untuk memulai menabuh gamelan. Gamelan yang pertama kali dimainkan yaitu Gamelan Kyai Guntur Madu yang ada di bangsal kanan. Kemudian bergantian dimainkan juga Gamelan Kyai Guntur Sari yang ada di bangsal sebelah kiri.

Perayaan Sekaten ini merupakan peninggalan Kasultanan Demak dan terus dilakukan hingga hari ini. Setiap tahunnya gending-gending yang berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW diperdengarkan, sebagai bentuk syiar kepada masyarakat. Dua gamelan Sekaten akan ditabuh secara bergantian selama rangkaian acara menjelang perayaan Maulid Nabi. Gamelan akan mulai ditabuh pukul 15.00 hingga 24.00 WIB setiap harinya.

Upacara adat ungeling gamelan sekaten ini diikuti dengan makan sirih secara bersama-sama yang dilakukan olah abdi dalem, sentana dalem, dan kerabat keraton Surakarta.

Perayaan Sekaten selalu diwarnai dengan adanya Maleman (Pasar Malem) sejak dahulu hingga kini. Kegiatan pasar malam yang berlangsung selama sebulan, menurut KRMH Satriyo Hadinagoro, membawa dampak yang signifikan terhadap perkembangan produk tradisional.

“Barang yang selalu dijual merupakan produk tradisional seperti jenang, mainan gasing dari bambu, celengan dan barang ataupun mainan dari tanah liat. Ini bukan saja merupakan kegiatan adat, tetapi juga kegiatan ekonomi kecil,” katanya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge