0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

MEA Jadi Tantangan Bagi Pengacara

timlo.net/achmad khalik
Muscab II Peradi (timlo.net/achmad khalik)

Solo — Persaingan dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi sorotan khusus dalam Musyawarah Cabang (Muscab) II Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) DPC Eks Karisidenan Solo yang diselenggarakan di Syariah Hotel Sabtu (12/12). Dalam kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Advokat Yang Profesional Dalam Menghadapi Era MEA 2016″ ini menghadirkan sejumlah pakar hukum baik tinggal Solo hingga tingkat nasional.

”Meski persaingan antar advokat Asean terbuka, namun di Indonesia ada undang undang Advokat sebagai pembendung pergerakan advokat asing. Advokat asing tidak boleh berkantor dan jika di Indonesia status mereka hanya sebagai karyawan,” ungkap pengacara Fery Firman Nurwahyu.

Ditegaskan oleh, Wakil ketua Dewan Pimpinan Nasional Peradi, Sutrisno, jabatan maksimal advokat asing sebagai tenaga ahli dan tidak boleh beracara di Indonesia. Pengacara asing juga harus mendapat persetujuan dari pemerintah serta mendapat ujian kode etik dari Perhimpunan Advokat.

“Kalau tidak ada pembatasan, Advokat di Indonesia bisa habis. Karena di luar Kode etik Advokat tidak berlaku dan justru hukum menjadi industry,” tuturnya.

Sementara, pakar Hukum UNS, Isharyanto menegaskan bahwa Globalisasi Hukum sebagian besar didorong Globalisasi Ekonomi. Hal tersebut merupakan pengaruh dari perdagangan Global. Oleh karena itu perlu hukum yang berlaku untuk transaksi Internasional. Dia mengatakan perlunya kurikulum yang tepat sebagai bekal Advokat.

“Penyusunan kurikulum pendidikan hukum yang mendorong penguasaan hukum nasional dengan melekatkan metede perbandingan hukum di semua jenjang, baik S1, S2 san S3,” tuturnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge