0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Seribu Misteri Alas Donoloyo

Tarmuji
Alas Donoloyo (Tarmuji)

Wonogiri – Hutan Donoloyo merupakan daerah pegunungan di selatan Kecamatan Slogohimo, tepatnya di antara Desa Sambirejo dan Desa Watusomo. Hutan itu terkenal dengan pohon jati yang sangat besar, dengan diameter lebih dari satu meter.

Bahkan berkembang cerita di masyarakat turun temurun, bahwa pohon jati di hutan itu keramat. Di sisi lain, hutan satu ini berkaitan erat dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kekeramatan daerah tersebut masih bisa kita rasakan sampai saat ini, begitu kita masuk ke area makam (jati Cempurung), yang konon, pohon jati itu diambil untuk dijadikan salah satu saka guru Masjid Demak pada jaman Walisongo.

Masyarakat percaya, jika pohon jati yang ada, usianya antara 300-700 tahun sebagai bukti sisa-sisa peninggalan Kerajaan Majapahit. Hal itu dapat dilihat dengan besarnya pohon jati tersebut.

Masyarakat setempat menamakannya dengan Jati Petruk, jati kembar, jati gondhel, dan lain-lain. Konon jati petruk tersebut kalau dilihat dari bawah sama dengan jati-jati lainnya akan tetapi kalau dilihat dari jauh akan tampak paling tinggi diantara jati-jati tersebut.

Ada jati kembar karena tumbuh dua dari bawah dan mempunyai ranting yang hampir sama dengan ukuran pohon yang sama pula.
Ada juga jati Cempurung, namun kini sudah tidak ada. Tapi,mitosnya tonggak jati itu, bila diduduki orang berapa pun jumlahnya selalu pas,tidak kurang tidak lebih.

Cerita yang beredar di masyarakat, bahwa pohon kayu jati dari Alas Donoloyo dibawa ke keraton Surakarta dan ada juga yang meyakini dibawa Mesjid Demak.

Jati Donoloyo, rata-rata mempunyai panjang 10 meter, dengan garis tengah satu meter, sehingga dinilai sebagai kayu jati dengan kualitas terbaik yang pernah ada. Tak heran jika Masjid Demak serta Keratonan Surakarta, dibangun dari kayu jati Donoloyo.

Nama Donoloyo merupakan nama pendiri desa di kawasan tersebut, yakni Ki Ageng Donoloyo, anggota laskar Kerajaan Majapahit saat dipimpin Raja Airlangga. Karena ingin mengabdi pada Kerajaan Majapahit, Ki Ageng Donoloyo yang tertinggal ketika mengikuti perjalanan Raja Airlangga, memutuskan untuk menetap di tempat itu, serta menanam pohon jati, yang ia niatkan bisa dimanfaatkan Kerajaan Majapahit.

Hingga saat ini, Alas Donoloyo masih dikeramatkan masyarakat sekitar. Khususnya Kawasan Punden, di mana letak pohon jati pertama ditanam dan dipotong untuk pembangunan Masjid Demak.

Konon, banyak peristiwa aneh terjadi menyangkut Alas Donoloyo. Seperti cerita awal mula digunakannya jati Donoloyo untuk pembangunan Masjid Demak, yakni akibat bayang-bayang ujung pohon jati Donoloyo yang kelihatan di Demak, meskipun jaraknya mencapai puluhan kilometer.

Ki Ageng Donoloyo sendiri, dipercaya masih berada di Alas Donoloyo. Karena dari dulu hingga kini, belum diketahui dimana letak makam sang laskar setia majapahit ini.

Sekian ratus tahun berlalu, kini kelestarian Alas Donoloyo masih dijaga oleh keturunan Ki Ageng Donoloyo. Pada hari Jumat Pon dan Jumat Kliwon, banyak masyarakat datang memberikan sesajen alias ngalap berkah. Alas Donoloyo dipercaya bisa membantu mengabulkan setiap permintaan seseorang, jika memang mereka melakukan ritual di tempat ini.

“Banyak sekali sesajen dan ubo rampe pada tonggak jati,biasanya warga yang ngalap berkah dan menjalankan ritual disini,” tandas warga Wonogiri, Gunar, Sabtu (12/12).

Saat ini dengan areal seluas lima hektar, alas Jati Donoloyo mulai menunjukkan tanda-tanda kepunahan. Kayu-kayu jati yang terlihat kokoh, sesungguhnya sudah lapuk dimakan zaman. Bahkan, di sebelah barat Alas Donoloyo, kayu jati yang dulunya tumbuh lebat, telah menjadi lahan pertanian.

“Kalau kita tidak menjaga kelestarian hutan ini, kelak hanya tinggal legenda tak berbekas. Saat ini, pohon jati peninggalan Ki Ageng Donoloyo, hanya tersisa di areal Punden. Alas Donoloyo ini merupakan simbol dan menjadi bukti kesetiaan seorang laskar di era Kerajaan Majapahit,” imbuhnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge