0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Lama Menghilang, Kemana Norman Kamaru?

Norman Kamaru (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Nama Briptu Norman Kamaru sempat jadi buah bibir masyarakat se-Indonesia. Tahun 2011 lalu, sosok Brimob berpakaian dinas bernyanyi lip sync lagu Chaiya Chaiya saat berjaga di pos.

Begitu diberitakan media, sosok Briptu Norman langsung meledak. Dia diundang ke aneka acara reality show. Sosoknya tampil setiap hari di televisi. Tawaran manggung membanjir. Norman pun jadi salah satu selebriti dadakan.

Seiring ketenarannya, Norman makin sering kena semprit komandan. Sebagai anggota Brimob, jelas ada aturan yang harus diikuti. Pernah dalam suatu show Norman tiba-tiba dijemput paksa karena ternyata tak mengantongi izin atasannya.

Desember 2011, Norman dipecat dari Korps Brimob dengan pangkat terakhir Brigadir Satu. Dia pun bisa fokus menjalani karir barunya sebagai artis.

Namun ternyata mimpi itu tak mudah. Norman hanya tenar beberapa saat. Main di beberapa serial FTV, manggung sesekali, kemudian redup.

Norman mengaku pernah mengamen di perempatan jalan. Dari pagi sampai siang, Norman cuma dapat Rp 12.000.

“Waktu itu saya ngamen pakai masker sampai dagu. Terus kumis saya panjang menutupi mulut. Saya juga pakai topi, jadi mungkin pada nggak ngeh,” kata Norman.

Rezekinya mulai lancar setelah berjualan bubur Manado di Kalibata. Uniknya bubur itu dinamai Brip’u Norman Kamaru. Brip’u sepertinya merupakan pelesetan dari Briptu.

“Nggak sih, ini kan Brip’u Kamaru, singkatan dari BubuR Manado Ikan cakalang Panada Untuk penggemar Kuliner Asal Manado di peRantaUan. Taglinenya, kalau enak datang lagi ya,” jelas Norman di kiosnya.

Setidaknya kata-kata itu mewakili bisnis buburnya saat ini. Lantaran kebanjiran pembeli, dia mengaku keuntungannya mencapai jutaan rupiah. Norman pun siap membuka cabang.

“Paling favorit itu bubur sama ikan cakalang disuwir. Bedanya sama tempat lain nggak tahu ya, yang jelas banyak orang bilang pas makan di tempat lain kurang enak. Pas di sini suka dan berkali-kali datang ke sini,” katanya.

Angan-angan sempat terlintas di benak Norman Kamaru untuk kembali bergabung di kesatuan Brimob Indonesia. Penyesalan kadang terngiang, tapi apa mau dikata rasa ingin pun tak bisa dipaksakan karena keterbatasan.

Pertanyaan pun kadang terlontar di hatinya, alasan konkret dari pihak Brimob atas pemecatannya belum terjawab.

“Iya menyesal, cuma masih mempertanyakan kenapa saya dipecat karena alasan dari pihak Brimob atas pemecatan saya masih kurang tepat,” ucapnya saat dikunjungi oleh merdeka.com beberapa waktu lalu.

Masakan Manado semisal, bubur Manado, ayam hoku, ayam rica dan makanan lain yang memiliki cita rasa khas Manado pun kini menjadi harapan yang besar untuk Norman menghidupi kehidupan sehari-harinya bersama kedua anak dan istrinya.

“Saya mengutamakan usaha ini ketimbang menjadi entertainment, karena entertainment tak selalu ada di atas,” katanya.

Saat ditemui di lokasi tempatnya berjualan, Norman menceritakan awal mula alasannya memulai usaha tersebut. Dia mengaku usaha itu tidak disengaja, melainkan untuk mengembangkan dari hobi yang ditekuni bersama istrinya, yakni memasak.

Awalnya, kata dia, sempat terpikir untuk membuat toko baju namun dirasa kurang efektif. Pasalnya, usaha penjualan baju sudah dijalani mereka sejak awal di Manado. Hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk membuat satu usaha kreatif yang berdasarkan hobi.

“Saya bilang ke istri saya coba buka usaha jual-jual baju lagi katanya nggak usah kan sudah ada di sana (Manado). Gimana kalau kita buka usaha yang hobi kita, usaha masak ya akhirnya kita buka di sini,” katanya.

Norman merasa pekerjaan yang dijalaninya adalah bagian dari hidup. Bagian nyata dari realita hidup pun sudah dirasakan dengan terjun langsung mengurus usaha tersebut. Dimulai beranjak dari bangun tidur pukul 05.30 WIB untuk belanja, sampai memasak pun kini harus dijalani untuk merasakan sulitnya mengembangkan usaha. Tapi itu tetap dia nikmati karena berdasarkan hobi.

Memang diakuinya, soal masak-memasak tak semua dilakoninya. Sebab, dia sudah memiliki 2 pegawai untuk membantu kiosnya. Kedua pegawai ini pun tak serentak kerja bersama-sama, mereka menjalankan tugas dalam waktu yang berbeda yaitu pagi dan malam.

“Karyawan ada 2, mereka kerja ada yang pagi dan malam. Karena kios ini 24 jam,” tutur Norman menjelaskan.

Bukan karena tidak adanya lagi job di dunia entertainment, Norman mengaku dirinya sudah banyak ditawari untuk bermain oleh stasiun televisi. Namun, hal itu dia kesampingkan karena ada aturan yang tak sejalan dengan pemikirannya. [ian]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge